Jumat, 21 Juli 2017

Kerajaan Allah dalam Injil Matius


By : Christine Veronika Dawan
+christine veronika
ig. @christine_veroni
fb. Christine Veronika Dawan
www.xineth.blogspot.com



Kerajaan Allah Dalam Matius
Bab I
Pendahuluan
1.1  Latar Belakang
Kerajaan Allah atau Kerajaan Sorga merupakan salah satu topik yang menarik untuk dibahas. Banyak teolog-teolog yang melakukan penelitian untuk membuktikan keberadaan Kerajaan Allah ataupun sebaliknya. Banyak orang Kristen juga yang mencari tahu tentang Kerajaan Allah atau Kerajaan sorga. Sehingga pada masa ini ada banyak cerita tentang kisah hidup orang yang sering melakukan perjalanan ke sorga. Bahkan banyak orang kristen yang membukukan kisah perjalanannya ke sorga tanpa adanya suatu pembuktian secara ilmiah. Banyak diantara mereka yang seolah-olah sangat memahami tentang sorga lebih dari apa yang telah dijelaskan dalam Alkitab. Dan lebih tragisnya lagi banyak orang kristen yang mempercayai kisah hidup orang lain yang melihat sorga dan menjadikannya doktrin. Hal ini menjadi pergumulan besar bagi gereja masa kini. Gereja harus dapat memberikan pengarahan yang tepat tentang Kerajaan Allah atau Kerajaan Sorga sesuai dengan apa yang telah Alkitab ajarkan. Hal ini juga merupakan tugas bagi para teolog untuk menggali isi Alkitab yang berkaitan dengan Kerajaan Allah atau Kerajaan Sorga.
Oleh sebab itu berdasarkan rasa ingin tahu yang tinggi setiap orang yang rindu untuk memahami tentang Kerajaan Allah atau Kerajaan Sorga perlu adanya kesadaran untuk menelitinya di dalam Alkitab. Maka dalam paper ini, penulis berusaha untuk menggali tentang Kerajaan Allah atau Kerajaan Sorga menurut injil Matius.


1.2  Rumusan Masalah
Dalam kaitannya dengan judul pembahasan paper ini, dan berdasarkan pula dengan Latar belakang yang di atas, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut:
1.2.1        Apakah yang dimaksud dengan Kerajaan Allah dan Kerajaan Sorga?
1.2.2        Mengapa Injil Matius menuliskan Kerajaan Allah dan Kerajaan Sorga?
1.2.3        Bagaimanakah Penggambaran Kerajaan Allah yang terdapat dalam Injil Matius?

1.3  Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka penulis memiliki tujuan sebagai berikut:
1.3.1        Untuk memahami arti dari Kerajaan Allah dan Kerajaan Sorga dalam Kitab Matius.
1.3.2        Untuk mengetahui maksud Matius menuliskan Kerajaan Allah dan Kerajaan Sorga.
1.3.3        Untuk mengetahui konsep Kerajaan dalam Matius.


Bab 2
Pembahasan

2.1  Definisi Kerajaan Allah dan Kerajaan Sorga
Sebelum membahas topik ini lebih lanjut, penulis akan menjelaskan definisi Kerajaan Allah dan Kerajaan Sorga. Kerajaan Allah sama artinnya dengan Kerajaan Sorga. Kerajaan Allah merupakan pusat tema dari Perjanjian Baru. Bahkan sabagai pokok utama dalam pemberitaan yang disampaikan oleh Yesus selama di dunia. J. Sidlow Baxter menuliskan: “Perlu sekali kita ketahui apa sebenarnya yang dimaksud dengan Kerajaan Sorga, karena hal itu adalah pokok utama ajaran Tuhan Yesus.”[1]
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (selanjutnya akan disingkat KBBI), kata Kerajaan Allah terbagi menjadi dua bagian  yaitu “kerajaan” yang berarti bentuk pemerintahan yang dikepalai oleh raja, tanda-tanda kebesaran raja, martabat (kedudukan) raja, wilayah kekuasaan seorang raja. Dan Allah yang berarti pencipta alam semesta yang maha sempurna, Tuhan yang maha Esa yan disembah oleh orang yang beriman. Berdasarkan pengertian KBBI maka Kerajaan Allah dapat diartikan sebagai bentuk pemerintahan dengan memiliki wilayah kekuasaan di mana Tuhan-lah yang memerintah. Berikut merupakan definisi tentang Kerajaan Allah menurut para ahli.
·         Menurut Gordon Fee yang dikutip oleh Glen dan David dalam bukunya yang berjudul Etika Kerajaan, menjelaskan bahwa “Kerajaan Allah adalah suatu peristiwa masa depan sekaligus suatu realitas masa kini”.[2]
·         Menurut George Eldon Ladd,
Kerajaan Allah adalah pemerintahan tertinggi Allah, namun pemerintahan Allah terwujud dalam tahap yang berbeda-beda sepanjang sejarah penebusan. Oleh karena itu manusia dapat masuk ke dalam wilayah pemerintahan Allah dalam beberapa tahap perwujudannya dan mengalami berkat-berkat pemerintahan-Nya itu dalam kadar yang berbeda-beda. Kerajaan Allah adalah zaman yang akan datang, yan lazim disebut Sorga. Waktu itu kita akan mengalami berkat-berkat pemerintahan-Nya dalam kepenuhan yang sempurna. Akan tetapi, kerajaan itu ada di sini saat ini dan dapat kita nikmati sebagian dari berkat-berkat pemerintahan Allah itu secara nyata.[3]
·         Menurut Albert Schweitzer yang dikutip oleh Eldon Ladd dalam bukunya yang berjudul Injil Kerajaan, menjelaskan bahwa “Kerajaan Allah sama sekali bukanlah suatu kenyataan rohani atau kenyataan yang ada sekarang; Kerajaan Allah seluruhnya merupakan kenyataan masa mendatang dan bersifat adikodrati”.[4]
·         Menurut Graeme Goldsworthy menjelaskan bahwa “has summarized a definition of the kingdom of God as “God’s people in God’s place under God’s rule””.[5]
·         Menurut Anthony Hoekema,
Kerajaan Allah telah digambarkan sebagai masa pemerintahan Allah secara dinamis aktif dalam sejarah manusia oleh Yesus Kristus, yang bertujuan menebus umatnya dari dosa dan kuasa setan, dan finalnya pembentukan langit yang baru dan bumi yang baru.[6]
·         Menurut Donald Guthrie,
Kerajaan Allah menunjuk kepada adanya hubungan antara masa sekarang dan masa yang akan datang. Perwujudan ini akan lengkap hanya dalam kerajaan yang akan datang, tetapi sudah diwakili pada masa sekarang di dalam jemaat.[7]
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, maka penulis menyimpulkan bahwa Kerajaan Allah adalah pusat dari pemerintahaan Allah sendiri yang telah ada masa sekarang dan yang akan datang.
2.2  Tujuan Matius menuliskan Kerajaan Sorga
Injil Matius adalah salah satu Injil sinoptik. Injil Matius ditulis oleh seorang yang benama Matius Lewi, yang dikenal sebagai seorang pemungut cukai, yang dipanggil Yesus menjadi salah seorang dari kedua belas murid Yesus.[8] Meskipun Injil Matius tidak mencantumkan secara tersirat tentang penulisnya, tetapi satu catatan dari Papias, bapa gereja pada abad kedua menyatakan bahwa “Matius menulis [mengumpulkan] pidato [laporan] dalam bahasa Ibrani dan masing-masing orang menafsirkan menurut kemampuannya”. Maka berdasarkan catatan tersebutlah dinyatakan bahwa Matiuslah yang menulis suatu dokumen kuno berbahasa Aram yang kemudian di masukkan ke dalam Injil pertama.[9] Injil Matius ditujukan bagi para petobat bukan Palestina yang berbahasa Aram, yang tidak mempunyai hubungan pribadi dengan Para Rasul dan yang pengetahuannya tentang Kristus bergantung sepenuhnya pada suatu dokumen tertulis.[10]
Pengajaran yang terdapat dalam Injil Matius menekankan standar kebenaran dari Kerajaan Allah (Pasal 5-7); kuasa kerajaan itu atas dosa, penyakit, setan-setan, dan bahkan kematian; kejayaan kerajaan itu di masa depan dalam kemenangan yang mutlak pada akhir zaman. Mengenai Kerajaan Sorga, Injil Matius menyebutkannya dua kali lebih banyak dari pada kitab lain di Perjanjian Baru.[11] Berikut di bawah ini merupakan tabel hasil perhitungan yang telah penulis lakukan secara manual untuk mengetahui perbandingan jumlah ayat dan kata, Kerajaan Allah dan Kerajaan Sorga dalam Injil.
Injil
Kerajaan Allah
Kerajaan Sorga
Jumlah Kata
Jumlah Ayat
Jumlah Kata
Jumlah Ayat
Matius
6
6
35
34
Markus
14
14
0
0
Lukas
32
31
0
0
Yohanes
2
2
0
0
Tabel: Jumlah Kerajaan Allah dan Kerajan Sorga dalam Injil.(LAI)
Berdasarkan tabel di atas, Injil Matius lebih banyak menggunakan kata Kerajaan Sorga dari pada Kerajaan Allah. Injil ini merupakan satu-satunya yang menggunakan kata Kerajaan Sorga. Kata Kerajaan Sorga (Yun. βασιλεια των ουρανων) digunakan sebanyak 35 kali pada 34 ayat sedangkan Kerajaan Allah (Yun. βασιλειαν του θεου) digunakan sebayak 6 kali pada 6 ayat. Banyak orang yang berpendapat bahwa, hal tersebut dikarenakan Injil Matius ditujukan kepada orang-orang Yahudi. Banyak penafsiran yang menjelaskan pula bahwa Matius lebih memilih menggunakan kata Kerajaan Sorga dari pada Kerajaan Allah, karena bagi orang Yahudi nama Allah sangat sakral untuk disebutkan. Sehingga Matius menggunakan padanan kata yang tepat dan mudah dimengerti tanpa mengurangi makna yang sebenarnya, dan kata yang digunakan adalah Kerajaan Sorga. Maka berdasarkan pendapat para penafsir, Kerajaan Sorga dan Kerajaan Allah memiliki arti yang sama, hanya saja Matius mengunakannya sesuai konteks orang Yahudi.
Kerajaan Sorga pertama kali diucapkan oleh Yohanes Pembaptis (3:2), hal ini untuk menggenapi nubuat nabi Yesaya yang terdapat dalam Yesaya 40:3, “Ada suara yang berseru-seru: “Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk Tuhan, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita!”. Yohanes Pembaptis merupakan pengggenapan dari nubuat nabi Yesaya. Di mana Yohanes Pembaptis adalah seorang yang mempersiapkan Yesus dan pangajaran-Nya. Kemudian Setelah Yohanes Pembaptis menyerukan “Bertobatlah sebab Kerajaan Sorga sudah dekat”, barulah dalam pasal 4:17 Yesus mengatakan hal yang sama. Itulah sebabnya Matius menuliskan tentang Kerajaan Sorga. Karena Kerajaan Sorga merupakan pokok utama dari pengajaran dan pelayanan Yesus di dunia. Ladd dalam bukunya yang berjudul Injil Kerajaan menuliskan bahwa “Tema tentang kedatangan Kerajaan Allah merupakan inti misi Kristus”.[12] Sementara menurut Gordon Fee yang dikutip oleh Glen dan David dalam bukunya yang berjudul Etika Kerajaan menuliskan bahwa “Kesaksian universal tradisi Sinoptik adalah bahwa tema sentral dari misi dan pesan Yesus adalah ‘Injil (Kabar Baik) tentang Kerajaan Allah’”.[13] Termasuk dalam Injil Matius.

2.2.1        Kerajaan Allah Hanya Disebut 6 Kali dan Kerajaan Sorga Disebut 35 Kali
Kerajaan Allah
Kerajaan Sorga
  1. 4:23
  2. 6:33
  3. 12:28
  4. 19:24
  5. 21:31
  6. 21:43

  1. 3:2
  2. 4:17
  3. 5:3
  4. 5:10
  5. 5:19
  6. 5:19
  7. 5:20
  8. 7:21
  9. 8:11
  10. 9:35
  11. 10:7
  12. 11:11
  13. 11:12
  14. 13:11
  15. 13:19
  16. 13:24
  17. 13:31
  18. 13:33
  19. 13:44
  20. 13:45
  21. 13:47
  22. 13:52
  23. 16:19
  24. 18:1
  25. 18:3
  26. 18:4
  27. 18:23
  28. 19:12
  29. 19:14
  30. 19:23
  31. 20:1
  32. 22:2
  33. 23:13
  34. 25:1
  35. 25:14
Tabel: Ayat Kerajaan Allah dan Kerajaan Sorga dalam Matius
Pertanyaan yang mungkin tidak pernah terpikirkan ialah mengapa Kerajaan Allah disebut sebanyak lima kali dan Kerajaan Sorga disebut sebanyak tiga puluh lima kali? Jika memang Matius menulis untuk orang Yahudi dan istilah itu hanya sebagai permainan kata, bukankah seharusnya Matius cukup hanya menuliskan Kerajaan Sorga saja, karena bagi orang Yahudi menyebutkan nama Allah sangat kudus, sehingga tidak dapat diucapkan. Maka, Matius tidak perlu menuliskan Kerajaan Allah di dalam kitabnya. Akan tetapi sekalipun nama Allah tidak dapat diucapkan karena terlalu kudus bagi orang-orang Yahudi, pada beberapa ayat, Matius pun tetap menuliskan istilah Kerajaan Allah di dalamnya. Pada bagian ini penulis akan menjelaskan berdasarkan hasil resert yang telah penulis lakukan.
Pada pembahasan sebelumnya, penulis telah menjelaskan berdasarkan pendapat dari para penafsir yang mengatakan bahwa Kerajaan Alah sama dengan Kerajaan Sorga. Akan tetapi penulis menemukan hal yang berbeda dari yang telah diungkapkan di atas. Matius memang menuliskan kitabnya untuk orang-orang Yahudi. Sebelumnya, kita perlu memahami latar belakang Kerajaan Alah bagi bangsa Yahudi.
2.2.1.1  Kerajaan Allah Bagi Bangsa Yahudi
Istilah "Kerajaan Allah" tidak terdapat dalam tulisan nabi-nabi PL. Namun ide tentang Kerajaan Allah terdapat di dalam seluruh tulisan para nabi secara implisit. Hal tersebut nampak, terutama dari sebutan "Raja" yang seringkali dikenakan kepada Allah. Allah disebut sebagai Raja, baik atas Israel, maupun atas seluruh bumi (Kel. 15:18; Bil. 23:21; 2Raj. 19:15; Yes. 6:5; Yer. 46:18; dsb.). Bangsa Israel melihat Allah. bukan saja sebagai Raja yang tidak kelihatan, melainkan juga sebagai Raja yang memanifestasikan secara nyata pemerintahan-Nya dalam hidup manusia dan bangsa-bangsa. Setelah masa pembuangan dan dalam masa peralihan antara PL dan PB, bangsa Yahudi mengembangkan ide atau gagasan tentang Kerajaan Allah secara beraneka ragam. Berdasarkan pemahaman tentang Kerajaan Allah tersebut, bangsa Yahudi dapat dibagi dalam tiga golongan yaitu:
1.      Orang-orang Yahudi yang mengharapkan berdirinya Kerajaan Allah secara fisik di dalam sejarah umat manusia pada masa yang akan datang.
Orang-orang dalam kelompok ini melihat bahwa bangsa Israel terus menerus berada di dalam ancaman perang. kejahatan, dan penderitaan-penderitaan lainnya. Karena itu, mereka memilih mengasingkan diri untuk menantikan dan mengharapkan terbentuknya pemerintahan Allah secara sempurna dalam dunia ini. Kebanyakan dari mereka ini adalah orang-orang yang tergabung dalam kelompok Qumran.
2.      Orang-orang Yahudi yang merasa pesimis dengan pengharapan kedatangan Kerajaan Allah.
Kelompok ini menganggap bahwa dunia telah diserahkan ke dalam kuasa-kuasa kejahatan, sehingga umat Allah akan terus menerus menemui penderitaan di dalam dunia ini. Mereka percaya bahwa Allah pada akhirnya memang akan mendirikan KerajaanNya, namun bukan pada zaman ini, melainkan pada suatu zaman yang akan datang, yang sama sekali baru. Pandangan ini lebih banyak dipengaruhi karena kekecewaan orang-orang Yahudi atas peristiwa pembuangan yang menguburkan harapan mereka terhadap pemulihan kerajaan Daud sebagai bentuk perwujudan berdirinya Kerajaan Allah dalam kehidupan zaman ini.
3.      Orang-orang Yahudi yang ingin mewujudkan Kerajaan Allah secepatnya.
Kelompok ini adalah orang-orang yang menamakan dirinya kaum Zelot. Mereka adalah kelompok Yahudi radikal yang berpendapat bahwa aksi politis mutlak perlu sebagai pendahuluan bagi kedatangan Kerajaan Allah. Mereka juga tidak ragu-ragu menggunakan pedang sebagai alat untuk mencapai tujuan tersebut.
Dari konsep orang Yahudi tersebut, kita dapat melihat bahwa keyakinan mereka sebagai umat pilihan Allah telah membuat mereka merasa yakin dan berharap bahwa suatu hari Allah akan memberkati mereka dan mendirikan pemerintahan-Nya di atas bumi ini, entah di dalam zaman ini ataukah di zaman yang akan datang. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya penghargaan bangsa Yahudi tidak sejalan dengan makna sesungguhnya dari seruan para nabi tentang pemerintahan oleh Allah. Bangsa Yahudi memahami Kerajaan Allah lebih secara historis (masa kini atau masa yang akan datang) dan duniawi (keamanan negara, kemenangan politik, kesejahteraan hidup, dsb.). Padahal para nabi tidak pernah menyerukan bentuk Kerajaan Allah sebagai tatanan duniawi. Mereka memberitakan tentang Kerajaan Allah sebagai tindakan Allah untuk memberikan keselamatan kepada umatNya dan membawa mereka pada suatu kehidupan yang dipimpin oleh Allah (Yes 24-27; Mi 4:3; Zef 3:15; Zak 14:16-17).
Dari latar belakang bangsa Yahudi di atas, kita dapat memahami dengan jelas bahwa seruan tentang kedatangan Kerajaan Allah dalam PB memiliki arti khusus bagi orang-orang Yahudi yang mendengarkannya. Berita yang telah lama orang Yahudi dengar dan nantikan, sekarang telah digenapi dengan kedatangan Tuhan Yesus ke dunia. Namun sayang, tidak semua orang Yahudi yang mengharapkan kedatangan Kerajaan Allah, dapat melihat penggenapannya yang sejati.[14]
2.2.1.2  Penggunaan Istilah Kerajaan Sorga dan Kerajaan Allah dalam Matius
Berdasarkan latar belakang tentang Kerajaan Allah bagi bangsa Yahudi, seperti yang telah penulis sampaikan di atas, maka dapat dilihat bahwa konsep tentang Kerajaan Allah menurut bangsa Yahudi adalah kerajaan secara fisik. Dalam hal ini, Matius menuliskan di dalam Kitab-nya tentang konsep Kerajaan Allah dan Kerajaan Sorga. Di mana dalam penggunaan istilah Kerajaan Allah yang disebutkan sebanyak  6 kali dan Kerajaan Sorga yang disebutkan sebanyak 35 kali, memiliki maksud tertentu. Penekanan yang disampaikan oleh Matius dari istilah Kerajaan Sorga yang ditulisnya yaitu untuk menyampaikan suatu kerajaan yang bersifat lahiriah, nubuatan atau pemberitahuan mengenai Kerajaan Yesus Kristus di masa yang akan datang pada kedatangan-Nya yang kedua.[15] Seperti yang telah diungkapkan oleh M.C. Tenney, bahwa:
Mulai dari keempat Injil Matius (11:2-13:53) cerita perumpamaan banyak dipakai. Tidak semuanya terdapat dalam bagian ini, tetapi kumpulan kisah perumpamaan yang terbanyak terdapat dalam pasal ketiga belas ini. Dalam gambaran yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari, mereka melukiskan sifat dan program Kerajaan Surga, terutama yang berhubungan dengan masa yang akan datang.[16]
Penggunaan istilah Kerajaan Sorga oleh Matius bukanlah karena keseganan Matius menggunakan kata Allah (Theou). Orang Yahudi segan menggunakan kata Yahweh (YHWH) yang biasa digunakan dalam bahasa Yunani adalah Kurios, sedangkan Theou adalah penggunaan atau penggantian dalam bahasa Ibrani Elohim atau Adonai, yang biasa digunakan oleh orang-orang Yahudi. Penulis menampilkan bahasa Ibrani dan Septuaginta untuk perbandingan penggunaan kata tersebut dalam; Kejadia 2:15. Dalam ayat tersebut menunjukkan bahwa “TUHAN Allah” dalam bahasa Ibrani אלהים יהוה (YHWH ‘Elohiym) dan dalam terjemahan septuaginta κυριος ο θεος (kurios o theos). Dalam penulisan tersebut dapat dilihat bahwa kata “YHWH” diganti dengan kata “Kurios” dan kata  “‘elohiym” diganti degan kata “Theos”. Sehubungan dengan itu Peter mengatakan:
Jika alasan Matius menggantikan kata “Allah” dengan “Sorga” karena orang Yahudi tidak berani menyebut nama Allah dengan sembarangan tidaklah begitu kuat. Orang Yahudi tidak sembarangan menyebut nama “Yehova”, namun mereka boleh menyebut nama “Elohim” bukan “Yehova” yang derivasinya adalah kata “Kurios” dalam PB Sedangkan kaum reformed pre-millenial yang menyamakan “Kerajaan Allah” dan Kerajaan Sorga” akan mendapat sedikit kesulitan untuk membuktikan pandangan pre-millenialnya sebagai pandangan yang Alkitabiah.[17]
Matius menggunakan ungkapan Kerajaan Sorga dan Kerajaan Allah, secara bergantian sehingga bukanlah keseganan Matius menggunakan ungkapan Kerajaan Allah sehingga diganti dengan ungkapan “Kerajaan Sorga”. Penggunaan Istilah Kerajaan Sorga adalah penekanan Matius mengenai kerajaan yang pemerintahannya dilakukan secara Theokratik, menjelaskan pemerintahan yang mempunyai teritorial atau tempat, di bumi pada masa yang akan datang, yaitu pemerintahan Tuhan Yesus secara Theokratik bagi semua orang yang ada di dalam Kerajaan Seribu Tahun. Sehubungan dengan itu Charles C. Ryrie mengatakan: “Memang adakalanya para dispensasionalis menyebut Kerajaan Seribu Tahun duniawi sebagai “kerajaan Sorga” dan kerajaan rohani abadi sebagai “Kerajaan Allah.” Kerajaan Sorga merupakan bagian dari Kerajaan Allah, tetapi bukan Kerajaan Allah itu sendiri. Kerajaan Sorga adalah Kerajaan Allah secara Theokratik, namun Kerajaan Sorga tidak sama dengan Kerajaan Allah dalam pengertian dengan Kerajaan Allah Universal. “Kerajaan Allah Universal ini adalah pemerintahan Allah dimana Allah memerintah hati dan hidup orang-orang yang percaya kepada-Nya. Orang-orang percaya saat ini telah dibawa masuk ke dalam Kerajaan Anak-Nya (Kol. 1:13).” Kerajaan Sorga adalah pemerintahan Tuhan Yesus secara Theokratik atau yang bersifat lahiriah dan akan direalisasikan pada saat kedatangan Kristus yang kedua. Sedangkan Kerajaan Allah dalam Matius adalah Pemerintahan Allah dalam Tuhan Yesus Kristus secara rohani.
Itulah alasan Matius menyebutkan “Kerajaan Sorga” lebih banyak dari pada “Kerajaan Allah”. Karena bangsa Yahudi masih mengeraskan hati mereka untuk menerima Yesus pada masa-Nya. Sehingga Matius lebih menekankan pada Kerajaan Sorga, di mana Kerajaan Sorga akan nyata pada kedatangan Yesus yang ke dua kali.
2.3  Konsep Kerajaan dalam Matius
Ada dua bagian Kerajaan yang disampaikan dalam Injil Matius, yaitu Kerajaan saat ini dan Kerajaan yang akan datang. George Eldon Ladd berpendapat bahwa “Pemerintahan Allah terwujud pada waktu sekarang dan pada masa mendatang dan karena itu ada kerajaan waktu sekarang dan kerajaan masa mendatang yang di dalamnya manusia dapat menikmati berkat pemerintahan Allah”.[18]
2.3.1 Kerajaan Allah Saat Ini
Kerajaan Allah saat ini merupakan kerajaan yang dibuktikan dengan keteladanan Yesus dan ajaran-ajaran-Nya ketika Ia di dunia. Matius mencatat banyak pengajaran tentang Kerajaan Allah yang diberitakan Yesus pada saat itu. Di mulai dari pasal 1:23, “… Imanuel – yang berarti: Allah menyertai kita.” Secara tekstual ayat tersebut telah menjelaskan mengenai kehadiran dari Sang Imanuel – “Allah meyertai kita” – bahwa sesungguhnya kata “μετα” (menyertai) merupakan kata depan, genetatif berarti dengan, di antara, serta, bersama-sama dengan; akusatif berarti sesudah, di belakang. Maka penulis memberi kesimpulan bahwa di mulai dari ayat tersebut, sebelum Mesias lahir, telah diberitakan oleh malakiat Tuhan bahwa dalam kelahiran-Nya akan menghadirkan hubungan Allah yang tinggal diantara dan ada bersama-sama dengan kita.  
Ayat lainnya dalam Matius yang mendukung pasal pertama untuk menunjukkan Kerajaan Allah saat ini yaitu dalam Matius pasal 5-7 yang diberi judul “Khotbah di Bukit”. Pada pasal tersebut Yesus mengajarkan tentang nilai-nilai Kerajaan Allah. Dalam buku yang berjudul The Secret Message of Jesus menuliskan bahwa, “Contoh yang paling inti tentang pengajaran Yesus terdapat dalam Matius 5-7, suatu bagian yang sering disebut Khotbah di Bukit, tetapi yang akan kita sebut manifesto kerajaan Yesus”.[19] Pada pasal tersebut Yesus banyak berbicara tentang nilai-nilai kehidupan orang percaya yang didasarkan pada kerajaan-Nya. Nilai-nilai yang Yesus ajarkan merupakan bentuk dari kehadiran Kerajaan Allah di dunia.
Tidak hanya itu saja, berita tentang Kerajaan Allah yang disampaikan Yesus disertai dengan tanda-tanda Mijizat (melenyapkan penyakit dan kelemahan, pengusiran setan atau roh jahat). Mujizat yang dilakukan oleh Yesus merupakan bagian dari pemberitaan Kerajaan Allah. Hal ini dilakukan agar orang-orang Yahudi tidak hanya mendengar berita tentang Kerajaan Allah, tetapi supaya mereka dapat mengalami Kerajaan Allah yang disampaikan Yesus. Setiap kuasa yang Yesus adakan merupakan kehadiran dari Kerajaan Allah, hal itu dapat dilihat pada Matius 12. Seperti pendapat Eldon Ladd, bahwa “Matius pasal 12 dengan jelas menyatakan pengusiran roh-roh jahat sebagai pekerjaan Kerajaan Allah”.[20] Ayat 28, menuliskan. “Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Roh Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu.” Dalam ayat tersebut menjelaskan bahwa kerajaan Allah adalah kerajaan yang telah datang yang dibawa oleh Yesus Kristus. Sehubungan dengan itu R.E.Nixon mengatakan: “Kata Yunani (ephthasen) hampir sama artinya dengan sudah datang”.[21] J. Sidlow Baxter juga berpendapat bahwa, “Kerajaan yang dijanjikan itu diberitakan oleh Yohanes Pembaptis, kemudian diajarkan oleh Tuhan Yesus dengan bukti yang dapat meyakinkan semua orang, kecuali mereka yang membutakan hatinya sendiri”.[22]
            Maka dari pemaparan yang telah penulis jelaskan di atas, Kerajaan Allah saai ini merupakan pemerintahan Allah di dalam setiap hati orang percaya, termasuk keyakinannya akan mujizat yang di dapat di dalam Kristus sampai kepada kehadiran Yesus yang ke dua kali.
2.3.1        Kerajaan Sorga yang Akan Datang
George Eldon Ladd berpendapat bahwa:
Kerajaan Allah pada dasarnya adalah pemerintahan Allah. Kerajaan Allah adalah kedaulatan Allah yang sedang bekerja. Akan tetapi, pemerintahan Allah diwujudkan dalam beberapa bidang dan kitab-kitab Injil memberitahukan bahwa kita dapat memasuki Kerajaan Allah pada saat ini dan pada masa mendatang.[23]
Matius tidak hanya mencatat pengajaran dan perbuatan Yesus yang menunjukkan kehadiran Kerajaan Allah pada saat itu, tetapi Matius juga mencatat pengajaran Yesus tentang kerajaan Allah yang akan datang yang di sebut dengan Kerajaan Sorga.   
Kerajaan Sorga adalah suatu kerajaan atau pemerintahan Tuhan Yesus di masa yang akan datang, yaitu dalam kedatangan Tuhan Yesus kedua kali. Kerajaan Sorga adalah yang menjadi pokok dalam pemberitaan Yohanes: “…, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!”(Mat. 3:2) . Menurut Matius kerajaan Sorga sudah dekat. Kerajaan Sorga yang sudah dekat juga diberitakan oleh Tuhan Yesus; “…., sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” (Mat. 4:17). Sehubungan dengan Kerajaan Sorga yang sudah dekat, Eddy Peter mengatakan:
Menurut Matius Kerajaan Sorga itu “sudah dekat” dan ini dimulai sejak permulaan pelayanan Yohanes Pembaptis (Mat 3:2), namun sayang orang Yahudi menolak Raja mereka sehingga kehadiran Kerajaan Sorga untuk sementara di cancel (band. Roma 9-11), dan untuk saat ini Kristus memproklamirkan relasi persaudaraan yang baru yang tidak dibatasi oleh ras (Mat. 12:46-50). Matius juga menjelaskan bahwa “rahasia Kerajaan Sorga” akan digenapi masa kini (Mat. 13:1-52). Dan Matius juga melihat Kerajaan Sorga bersifat apokaliptik, yaitu Kerajaan 1000 tahun (Mat. 24:29-25:46 band Luk. 19:12-19; Kis. 15:14-17).[24]
Orang-orang Yahudi (Israel) menolak Raja dan tuntutan moral kerajaan itu. Karena penolakan orang Yahudi, terjadilah pengurungan atau penundaan waktu kerajaan Sorga sampai kedatangan Kristus kedua kali. Kerajaan sorga akan berlangsung di bumi ini dan bersifat lahiriah, yaitu pemerintahan Tuhan Yesus secara Theokratik. Seperti yang dikatakan oleh Millard J. Erickson bahwa:
Kerajaan Sorga, memiliki ciri Yahudi, Mesias dan Daud. Kerajaan ini telah dijanjikan kepada Daud, dan janji ini memasuki periode perjanjian Baru “tanpa perubahan sama sekali.” Kerajaan itu “sudah dekat” mulai dari awal pelayanan Yohannes Pembaptis sampai pada “penolakan Raja yang sesungguhnya,” dan kemudian ditunda. Kerajaan ini akan direalisasikan selama milenium.[25]
Kerajaan Sorga adalah kerajaan yang dijanjikan kepada Daud, dan kepada orang Yahudi. Seperti yang dikatakan Peter:
Dan kita patut mengingat bahwa sejak Injil Matius ditulis untuk orang Yahudi, Matius ingin menjelaskan bahwa Kerajaan Sorga itu merupakan Kerajaan yang dijanjikan kepada Israel yang akan segera datang, yaitu kerajaan yang diperintah oleh Kristus yang sekarang memerintah Kerajaan Sorga di Sorga dan yang akan turun ke bumi untuk menghadirkan pemerintahan Kerajaan Sorga di bumi yang sudah dijanjikan kepada Israel (lih. Mat 6:10; Dan. 2:24-36,44; 7:23-27; 2 Sam. 7:7-10; Zak. 12:8; Luk. 1:32-33).[26]
Kerajaan Sorga adalah kerajaan Mesias, mediator, kerajaan Daud dengan tujuan mendirikan kerajaan Allah secara Theokratik di bumi. Eddy Peter mengatakan: “misteri Kerajaan Sorga’ saat ini terdiri dari orang-Kristen sejati dan palsu (Mat. 13; 25:1,11-12), yaitu ada gandum dan ilalang, ikan yang baik dan ikan yang jahat. Ini dimulai sejak Kristus mengabarkan Injil sampai masa penuaian.” Dalam Injil Markus dan Lukas, Kerajaan Allah tidak ditemui atau tidak terdapat perumpamaan gandum dan ilalang, sebab di dalam Kerajaan Allah tidak ada ilalang dan ikan yang tidak baik (Matius 13:24-30, 36-43, 47-50).
Kerajaan Sorga adalah kerajaan yang telah dijanjikan kepada orang Yahudi. Kerajaan Sorga telah diberitakan oleh Yohanes Pembaptis dan Tuhan Yesus sendiri dengan seruan “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat.” (Mat 3:2; 4:17). Tetapi orang Yahudi menolak Raja yang datang (Mat. 27), sehingga kerajaan Sorga itu ditunda (Mat.13), sampai saat kedatangan Kristus kedua kali. Kerajaan Sorga akan menjadi kerajaan terakhir di bumi. Janji besar Allah kepada Daud pasti akan digenapi di dalam jaman kerajaan masa mendatang apabila Yesus Kristus menegakkan pemerintahan-Nya yang benar di bumi, dalam kedatangan Tuhan Yesus Kristus yang kedua kali.


Bab 3
Penutup

3.1  Simpulan
Berdasarkan pembahasan pada bab II maka penulis menyimpulkan bahwa, pembahasan mengenai Kerajaan Sorga hanya terdapat dalam Injl Matius dari 4 Injil yang ada. Sedangkan Kerajaan Allah terdapat dalam keempat Injil. Dalam terjemahaan LAI, Matius menuliskan Kerajaan Allah sebanyak 6 kali dan Kerajaan Sorga sebanyak 35 kali. Pemahaman mengenai maksud dari penulis Kitab yaitu Matius tentang Kerajaan Allah dan Kerajaan Sorga sering dianggap sama. Banyak orang yang berpendapat bahwa Matius lebih berfokus menggunakan istilah Kerajaan Sorga daripada istilah Kerajaan Allah, karena Kitab Matius ditujukan kepada orang Yahudi dan bagi mereka nama Allah sangatlah kudus sehingga tidak dapat disebutkan. Dengan kata lain Matius merasa segan untuk menggunakan istilah Kerajaan Allah. Akan tetapi dibalik itu, Matius memiliki maksud lain dalam penulisan istilah Kerajaan Sorga dan Kerajaan Allah. Apabila alasannya hanya karena merasa segan, tentulah Matius akan mengubah semua istilah Kerajaan Allah menjadi Kerajaan Sorga, artinya bahwa di dalam Injil Matius tidak akan digunakan istilah Kerajaan Allah.
Maksud lain dari penulisan Kerajaan Allah yang jauh lebih sedikit dari pada Kerajaan Sorga yaitu mengarah pada Kerajaan Allah saat ini dan Kerajan Sorga yang akan datang. Di mana Kerajaan Allah dituliskan untuk menunjukkan kehadiran Allah yang ada bersama-sama manusia dan akan terus tinggal di dalamnya. Hal tersebut menunjukkan kepada kelahiran Yesus ke dalam dunia yang tinggal bersama manusia pada zama-Nya dan yang tinggal di dalam hati setiap orang yang percaya sampai saat ini. Itulah Kerajaan Allah.
Sedangkan Kerajaan Sorga yang akan datang menunjukkan kepada penggenapan pemerintahan Allah (Theokrasi) secara nyata bagi bangsa Yahudi yang akan digenapi di masa yang akan datang yaitu pada kedatangan Yesus kedua kali. Banyak pakar yang berpendapat bahwa hal tersebut mengarah pada kerajaan seribu tahun. Tetapi bagi penulis hal tersebut tidak hanya di genapi pada masa seribu tahun. Kerajaan itu akan lebih menjadi sempurna pada langit baru dan bumi baru.  





[1]J. Sidlow Baxter. 1999. Menggali Isi Alkitab. (Jakarta: YKBK/OMF), hlm. 121.
[2]Glen H. Stassen & David P. Gushee. 2008. Etika Kerajaan: Mengikut Yesus Dalam Konteks masa Kini. (Surabaya: Momentum), hlm. 4.
[3] George Eldon Ladd. 1994. Injil Kerajaan. (Malang: Gandum Mas), hlm. 24-25.
[4] Ibid, hlm. 16.
[5]George Eldon Ladd. 1952. Crucial Question about the Kingdom of God. Eerdmans; 1959. Gospel of the Kingdom: Scriptural Studies in the Kingdom of God. Eerdmans; 1993. A Theology of the New Teastement. Eerdmans, pp. 31-132. http://www.theopedia.com/kingdom-of-god (diakses 2 Februari).
[7] Donald Guthrie. 1996. Teologi Perjanjian Baru 3. (Jakarta: BPK), hlm. 26.
[8] Merrill C. Tenney. 1997. Survei Perjanjian Baru. (Malang: Gandum Ma), hlm. 183.
[9] Jack Dean Kingsbury. 1995. Injil Matius Sebagai Cerita. (Jakarta: BPK), hlm. 210.
[10] Ibid. Merrill C. Tenney, hlm. 184.
[12] Ibid. Gorge Eldon Ladd, hlm. 15.
[13] Ibid. Glen H. Stassen & David P. Gushee, hlm. 3.

[15] TINJAUAN TENTANG KERAJAAN ALLAH DAN KERAJAAN SORGA (bagian 3) https://candragunawan512.wordpress.com/2015/05/07/tinjauan-tentang-kerajaan-allah-dan-kerajaan-sorga-bagian-3/. (diakses 29 Maret).

[18] Ibid. George Eldon Ladd, hlm. 27
[19] Brian D. McLaren. 2008. The Secret Massage Of Jesus. (Malang: Gandum Mas), hlm. 123.
[20]Ibid. George Eldon Ladd, hlm. 55.
[21]R.E. Nixon. 1996. Tafsiran Alkitab Masa Kini. (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF), Jil. 3, Matius-Wahyu, Matius 12:28, 89.
[22] Ibid. J. Sidlow Baxter, hlm. 122.
[23] Ibid. George Eldon Ladd, hlm. 27.

Senin, 17 Juli 2017

latar belakang 1 timotius 4

LATAR BELAKANG JEMAAT
A.    Keadaan Jemaat
Kondisi jemaat yang dilayani Timotius pada saat itu terdiri dari orang-orang Yunani dan Yahudi. Efesus sejak dulu merupakan kota yang penting, mula-mula merupakan “koloni” Yunani, yakni tempat tinggal orang-orang Yunani dalam perantauan. Bandar ini menjadi kota yang termasyhur lagi terkaya di daerah Asia Kecil, penghubung dunia Barat dan Timur. Pusat kebaktian ialah kuil dewi kesuburan: “Ibu Agung”. Mula-mula inilah dewi Asia Barat, yang kemudian masuk ke dalam agama Eropa: namanya Artemis, nama Latinnya diana. Di samping perniagaan, pusat berhala inipun mendatangkan banyak kekayaan pada kota itu: uang nazar dan persembahan mengalir ke sana dari segala mata angin, orang yang mencari jimat, dan lain-lain. Tak mengherankan juga bahwa kota ini sangat indah. Kuil itu, yang tergolong tujuh keajaiban dunia, dibangun dari batu pualam. Jalan raya dihiasi dengan patung-patung indah. Orang-orang yang berziarah dapat memilih hiburan sesukanya.  Ketakhayulan dan ilmu sihir masih mempengaruhi keadaan jemaat muda itu, ajaran sesat yang pada saat itu merajalela di Efesus adalah suatu sinkretisme, suatu ajaran campuran yang mengandung unsur-unsur agama Yahudi dan unsur Gnostik Hellenis. Tradisi gereja dalam pokok-pokok ajarannya harus di pertahankan demi kemurnian Injil. Ajaran-ajaran  sesat itu datang dari beberapa orang di dalam jemaat itu sendiri, yang sesungguhnya tidak mengerti apa-apa. Penganiayaan dan penindasan oleh raja dan pembesar-pembesar juga sering terjadi kepada orang Kristen dan orang Yahudi. Organisasi gereja berkembang menjadi makin rumit. Jabatan-jabatan telah ditetapkan dan dikejar oleh sementara orang yang ingin dianggap penting, sehingga martabat kedudukan itulah yang dikejar, bukan tujuan utamanya.
            Hal ini menyebabkan kehidupan jemaat di Efesus sangat dipengaruhi kondisi tersebut, termasuk dalam bidang keagamaannya. Ajaran-ajaran sesat tersebut adalah mengenai sinkritisme. Sinkritisme tersebut adalah suatu ajaran campuran yang mengandung unsur-unsur agama Yahudi dan unsur Gnostik Hellenis. Dorongan sinkritisme yang kuat pada zaman ini adalah di antara kalangan bukan-Yahudi. Karena jemu dan sangsi terhadap puluhan agama serta ratusan dewata, orang yakin bahwa ada satu kebenaran saja terlindung di dalam segala agama. Mereka tertarik kepada Injil karena mengakui adanya satu Allah saja dan susilanya yang bersahaja dan murni. Namun mereka juga mengambil unsur-unsur yang terdapat pada agama bukan-Yahudi. Sama seperti para Gnostik abad kedua, mereka menyangkal bahwa dunia ini benar-benar dunia Allah—sehingga semakin cepat mereka dapat lolos dari dunia, semakin baik kehidupan mereka.
            Rasul Paulus untuk sementara ini menuliskan surat untuk memberikan petunjuk-petunjuk kepada muridnya bagaimana cara menata jemaat-jemaat dan melawan ajaran-ajaran sesat. Surat ini memberikan kesan bahwa Rasul Paulus sedang menyiapkan Timotius untuk mengambil alih tugas daripadanya sebagai generasi penerus tradisi dan kekayaan gereja. Selain itu surat ini juga ditulis untuk memberikan nasehat kepada para pemimpin jemaat mula-mula. Maksud Paulus mengirimkan surat ini adalah untuk memberi petunjuk kepada teman-teman Paulus mengenai pimpinan atas jemaat-jemaat yang dilayani mereka. Dengan kata lain: petunjuk tentang pengembalaan (apostolat) jemaat Tuhan. Inilah yang menjadi tema utama dari keseluruhan surat Paulus kepada Timotius.
            Jangkauan dari 1 Timotius adalah pemeliharaan iman yang Am. Tujuan dari Taurat adalah “kasih yang keluar dari hati yang bersih dan kata hati yang baik dan iman tidak berpura-pura” (1 Tim 1: 4-11). Bidang dari 1 Timotius adalah kekeliruan dari kehidupan publik dan doa-persembahan yang mana kita dipimpin ke hidup yang tentram dan damai. Metode dalam 1 Timotius adalah memberikan atau menawarkan dewan yang dibagi menjadi dua tingkatan, bishop yang melatih dan bekerja digambarkan dalam 1 Tim 3: 1-7, dan yang disebut “presbyters” dalam gambaran masa depan pada ayat 17-19 dan diaken yang digambarkan dalam 1 Tim 3:8-13. Ketepatgunaan surat ini terletak pada contoh Timotius sendiri yang menyalurkan, mempelajari dan menggunakan karunia rohani, melayani tua dan muda, miskin dan kaya, janda dan hamba (1 Tim 3:14; 6:21)
            Surat ini tidak berkenaan dengan doktrin pembenaran, yang begitu dominan dalam Surat Roma dan Galatia, tetapi merupakan pemaparan keunggulan Kristus atas semua dasar kosmik. Dia mengenjawantahkan rencana Allah untuk kepenuhan waktunya (1:10), yang merupakan tujuan penciptaan. Dialah yang membawa semua ras manusia ke dalam kesatuan, baik orang Yahudi maupun bukan Yahudi; dan Gereja, yaitu kepenuhan Kristus menjadi alat yang dengan rencana Allah disempurnakan. Karya pendamaian Kristus yang bersifat universal itu harus dimulai dari gereja sendiri, yakni ketika kesatuan terwujud oleh kasih dan saling melayani. Dari tubuh Kristus itulah (5:30) kesatuan menyebar keluar. Doktrin yang demikian tinggi tentang Gereja dalam surat ini dan petunjuk-petunjuk mengenai pelayanan (4:11) serta kedudukan Kristus sebagai kepala Gereja (5:23), menyebabkan surat ini mendapatkan tempat penting dalam diskusi-diskusi oikumenis modern.
            Penulisan Surat I Timotius ini ditulis dalam bentuk orang ketiga yaitu berkaitan dengan syarat-syarat para penilik dan diaken. Yang mana isi surat ini berisi ringkasan tentang aturan gereja. pengusulan bahwa penulis surat ini adalah Paulus merupakan tindakan supaya surat tersebut diterima terutama tentang aturan-aturan yang disampaikan.

SEJARAH KONTEKS
           Di dalam surat Timotius kita diperhadapkan pada gambaran mengenai gereja dengan perkembangan organisasi gerejawi yang demikian baik. Di sana ada penatua, penilik jemaat dan diaken. Di sini jelas adanya struktur gereja yang rinci, sedemikian rincinya sehingga sebagian orang berpendapat bahwa hal ini tidak mungkin terjadi pada masa-masa awal saat Paulus hidup dan melayani    Selain itu, jemaat di Efesus juga mengalami tekanan-tekanan dari para penguasa. Kekristenan mengalami penganiayaan yang luar biasa dari penguasa. Jemaat juga mengalami kebingungan dengan banyaknya pengajar-pengajar sesat dengan aliran-aliran sesatnya. Karena merupakan kota pelabuhan dan perdagangan, jemaat sulit untuk menghindari hal tersebut. Hal disebabkan karena kehidupan kota mereka juga bergantung dari datangnya pedagang-pedagang Yunani yang biasanya juga membawa penyembahan berhala. Bahkan mereka juga hidup dari biaya upacara-upacara tersebut. Namun jemaat tetap diminta untuk selalu berdoa kepada setiap orang dalam tekanan-tekanan tersebut. Hal inilah yang merupakan kewajiban sebagai warga negara, yaitu mendoakan negaranya sehingga dapat hidup dengan tenteram dan damai.

            Sebagaimana ditunjukkan oleh Hermann von Lips, gambaran gereja yang berperanan dalam Surat-surat Pastoral ialah gambaran keluarga.Penggunaan gambaran ini yang paling eksplisit ditemukan dalam 1 Timotius 3:14:15: “Semuanya kutuliskan kepadamu, walaupun kuharap segera dapat mengunjungi engkau. Jadi jika aku terlambat, sudahlah engkau tahu bagaimana orang harus hidup sebagai keluarga Allah, yakni jemaat dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran. Pada waktu itu juga jabatan tentang penilik jemaat atau diaken sudah ada, namun di dalam surat ini yang diharapkan bukanlah menyangkut tugas-tugas yang dicakup oleh jabatan melainkan tuntutan etis bagi mereka yang menerima jabatan itu.

Jumat, 09 Juni 2017

keteladanan

Orang muda yang menjadi teladan
1 Tim 4 : 1 – 16
Shalom....
Saya yakin di sini hampir semua adalah anak muda... terkadang anak muda dalam pelayanan akan di anggap remeh. Ada istilah “masih bau kencur”  tetapi di sini kita akan sama – sama belajar bagaimana seorang muda yang menjadi berkat
Namun tidak semua orang tahu bagaimana agar ia di hargai. Saya beri contoh…. Orang muda punya kecenderungan ingin di hargai, ingin di akui namun tidak pernah mau menunjukan sikap atau sifat yang menunjukan bahwa ia dewasa, ia layak di hargai. Di dunia saja orang menilai harga suatu barang dari kualitasnya, jika berkualitas tinggi pasti akan di hargai tinggi juga, demikian kita sebagai orang muda, jika ingin di hargai… tunjukanlah bahwa kamu itu pantas di hargai, lewat sikap, lewat sifat kita yang menunjukan bahwa sekalipun kita masih muda namun pantas di hargai.
Timotius adalah anak dari perkawinan campuran. Ibunya adalah seorang Yahudi yang yang taat dan bapaknya adalah seorang Yunani. Timotius menjadi orang kristen karena pelayanan yang di lakukan oleh paulus dan arti nama Timotius itu sendiri adalah anak yang saleh. Ketika tomotius kecil ia di ajari taurat oleh ibunya. Ini semua yang membentuk karakter dari timotius.
Di 1 timotius 4 : 1-16 ini dapat di bagi menjadi 2 bagian besar yaitu :
1-3 pergumulan yang akan di hadapi oleh orang percaya khusunya jemaat yang ada di efesus.
4-16 adalah nasehat – nasehat Paulus pada Timotius yang di mana seorang muda yang di percayakan untuk melayani sebuah jemaat.
Konteks pergumulan yang akan di hadapi adalah akan adanya ajaran – ajaran sasat atau pengajar – pengajar sesat dan di sini Paulus memberikan beberapa Nasehat kepada Timotius.
1.      Saling mengingatkan  (6)
Mengingatkan :
jika kita melihat di dalam Alkitab terjemahan baru kita akan menemukan kata mengingatkan, tetapi jika kita lihat Aslinya  “ὑποτιθέμενος” make known, yang lebih mengarah ke dalam kata “mengajarkan sampai benar – benar mengerti”. Jika kita melihat analisis kata dalam bahasa yunani adalah (verb participle present middle nominative masculine singular from) yang mempuyai arti kata kerja pelengkap yang terus menerus terjadi dan sebagai pelaku ia sendiri penderita dan jenisnya tunggal. Sehingga harus mengajarkan
sehingga kita bisa menarik kesimpulan kata mengingatkan dalam (1 timotius 4 : 6 ) kata yang tepat gunakan adalah kata mengajarkan sampai benar – benar di mengerti, sehingga ketika timotius mengajarkan jemaat sampai mengerti, jemaat tidak akan terpengaruh oleh ajaran sesat.
2.      Latilah (7)
Kata latilah berasal dari bahasa asli yaitu  Γύμναζε verb imperative present active 2nd person singular from γυμνάζω  kata latih yaitu belajar dan membiasakan diri agar mampu (dapat) melakukan sesuatu, berarti untuk dapat mencapai sesuatu hal dengan maksimal harus terus-menerus dibiasakan, sehingga dapat dengan sendirinya dilakukan tanpa harus dipaksakan.
Kata latihan:  lebih tepat mengukan kata disiplin, disini paulus mengajarkan kepada jemaat diefesus untuk dapat tetap mendisiplin diri secara terus menerus, agar tidak terpengaruh kepada hal-hal   yang menyesatkan. Jika kita melihat konteks jaman dahulu jemaat di efesus belum terkena atau terpengaruh oleh ajaran sesat. Sehingga disini lebih menekankan displin kepada jemaat di efesus.
            Kesimpulan adalalah paulus menginginkan jemaat diefesus tidak hanya melatih diri           untuk ibadah, tetapi lebih cenderung untuk mendisiplin diri.
3.      Memberitakan dan mengajarkan firman kebenaran Tuhan (11)
Dalam hidup orang percaya ada sebuah amanat agung yang di berikan yaitu sebuah perintah untuk memberitakan firman bagi orang yang belum mengenal Tuhan. Mengajarkan firman tidak harus selalu di dalam gereja, kita bisa melakukanya di mana kita berada, di rumah, di tempat kita berkerja,
4.      Menjadi teladan perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan, dan kesucian. (12)
Jika kita menjadi teladan bagi lingkungan kita secara otomatis kita akan memberitakan kasih Yesus bagi lingkungan kita. Ini sama dengan yang di lakukan oleh gereja saya

menyelamatkan (ayat 16)

Ø  Kata menyelamatkan menurut bahasa aslinya “sozo”bisadiartikan sebagai “keep safe” atau mengamankan. Kata menyelamatkan disini lebih tepat menggunakan kata mengamankan, karena pada saat itu kondisi keadaan jemaat Efesus belum terjerumus atau masuk kedalam pengajaran sesat. Disini Paulus memerintahkanTimotius untuk memberikan ajaran-ajaran yang benar sehingga ajaran yang disampaikan olehTimotius itu bias menjadi tameng atau mengamankan jemaat Efesus agar tidak terpengaruh oleh ajaran sesat. Disini juga Paulus memerintahkanTimotius untuk mewaspadai ajaran-ajaran sesat . disini kami menjelaskan kenapa jemaat di Efesus belum terjerumus dalam ajaran sesat karena di ayat yang pertama cukup menjelaskan “Tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa diwaktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalumengikuti roh-roh penyesat dan ajaran-ajaran setan”. Kata kemudian ini yang menunjukan bahwa jemaat di Efesus belum terjerumus kedalam ajaran sesat.

Selasa, 02 Mei 2017

makna kurban penghapus dosa dan relevansinya

Bab II
Pembahasan
2.1.  Pengertian Kurban Penghapus Dosa
Kita tentuna mengetahui jika Allah itu kudus, tetapi manusia itu berdosa, dan ketika manuisa berdosa, manusia tidak dapat menghampiri Allah. Jika manuisa ingin menghampiri manusia ia harus membawa kurban yang di persembahkan kepada Alah[1]. Karena Kurban dipahami sebagai persembahan kepada yang ilahi, sebagai pengganti manusia yang berdosa, atau santapan untuk dewa-dewa,dan sebagainya. Sistem kurban ini secara tidak langsung mengungkapkan akan adanya sesuatu yang lebih besar dari manusia, karena korban itu dipersembahkan kepada sesuatu atau seseorang yang dianggap lebih besar dari manusia. Dan manusia yang menyadari akan kesalahan-kesalahannya, memberikan korban kepada sesuatu yang lebih besar ini, sehingga akibat dari kesalahan-kesalahan tidak lagi ditimpakan kepada manusia yang melakukan kesalahan. Perlu kita perhatikan konsep kurban oleh orang kafir dengan konsep kurban orang Israel pada hakekatnya sangat berbeda. G. E. Wright dan Kuiper dalam buku mereka menjelaskan bagaimana konsep orang kafir mengenai kurban tidak lepas dari anggapan anthropomorf tentang dewa. Dimana  antara manusia dan dewa terdapat ikatan kekeluargaan dan persamaan, sehingga para dewa menyerupai manusia. Dewa bergantung pada manusia demikian sebaliknya manusia bergantung kepada dewa. Disini berlakulah dasar pokok do ut des (aku memberi agar engkau memberi). Namun lain halnya dengan kurban dalam kitab Imamat sering dinyatakan untuk ’menebus’(Imamat 1:4, dst). Kurban salah satu kelompok kata untuk ’persembahan’ yang berasal dari kata kerja ’untuk membawa dekat.” Kurban adalah sarana umat untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah bukan karena umat bermasud minta balasan berdasarkan kurban yang sudah diberikan, melainkan kurban itu adalah korban sukarela kepada Allah juga sebagai tebusan atas pelanggaran umat kepada Allah. Sedangkan Adam Clarke yang dikutip oleh Pdt Budi Azali dalam artikelnya di internet berkata:
“‘Bring an offering.’ The word KURBAN, from KARAB, ‘to approach or draw near,’ signifies an offering or gift by which a person had access unto God: and this receives light from the universal custom that prevails in the east, no man being permitted to approach the presence of a superior without a present or gift; and the offering thus brought was called ‘korban,’ which properly means the introduction-offering, or offering of access” ( ‘Membawa suatu persembahan / korban’. Kata KURBAN, dari kata KARAB, ‘mendekat’, menunjukkan suatu kurban atau pemberian dengan mana seseorang mendapat jalan masuk kepada Allah: dan ini mendapatkan terang dari kebiasaan universal yang berlaku di Timur, tak seorangpun diijinkan untuk mendekati seorang yang lebih tinggi tanpa suatu hadiah atau pemberian; dan persembahan yang dibawa itu disebut ‘kurban’, yang secara benar berarti ‘kurban yang mempersiapkan jalan’ atau ‘kurban jalan masuk’). pemberian dengan mana seseorang mendapat jalan masuk kepada Allah: dan ini mendapatkan terang dari kebiasaan universal yang berlaku di Timur, tak seorangpun diijinkan untuk mendekati seorang yang lebih tinggi tanpa suatu hadiah atau pemberian; dan persembahan yang dibawa itu disebut ‘kurban’, yang secara benar berarti ‘kurban yang mempersiapkan jalan’ atau ‘kurban jalan masuk’).[2] Ada beberapa istilah tenang kurban yang perlu di perhatikan secara khusus. “kurban penghapusan dosa mudah di kacaukan dengan “Kurban penebus salah”, karena keduanya sama, kecuali kurban penebus salah menuntut ganti rugi kepada orang yang dirugikan oleh dosa.
Persembahan karena dosa “melunasi” atau mengadakan perdamaian karena kesalahan – kesalahan ritual seorang penyembah terhadap Tuhan. Kesalahan – kesalahan ini dilakukan secara tidak sengaja. (Im 4:1-2). Dosa – dosa imam besar di hapuskan dengan mempersembahkan seekor lembu jantan, darahnya tidak di siram di atas mezbah, tetapi dipercikan dari jari imam besar itu sebanyak tujuh kali di atas mezbah. Selanjutnya semua lemak dari perut di bakar. Semua bagian yang lain di bakar tidak dimakan, di luar perkemahan atau kota di “suatu tempat yang tahir, ke tempat pembuangan abu”
Dosa para pemuka dalam masyarakat itu harus dihapuskan dengan mempersembahkan seekor kambing jantan. Darahnya dipercikan sekali saja, kemudian darah selanjutnya dicurahkan sekeliling bagian bawah mezbah seperti dalam kueban bakaran. Dan dosa seorang pribadi dengan kurban binatang betina, kambing, domba, burung terkukur atau burung merpati. Apabila seorang tidak dapat menyediakan kurban seperti itu, persembahan tepung yang terbaik dapat di terima. Cara mempersembahkan tepung ini sama seperti cara untuk kurban sajian.
“Upacara kurban dalam Perjanjian Lama berpusat pada kata kerja bahasa Ibrani kipperyang biasanya diterjemahkan dengan “mendamaikan” atau “menutupi” (Imamat 1:4). Arti dasarnya barangkali “menutupi” atau “menghapuskan”. Atau kata kerja ini menunjuk kepada proses penebusan atau pendamaian dengan membayarkan sejumlah uang atau upeti, yang mencerminkan arti kata benda Ibrani koper (“harga tebusan”). Berdasarkan konteks alkitabiah (terutama Imamat 17:11), arti terakhir ini paling tepat mencerminkan konsep Ibrani.”  
2.2. Makna Korban Penghapus Dosa
Ketika kita diberitahukan, pada akhir kitab Ibrani, untuk pergi kepada- Nya diluar kemah, Ibr 13:13, pesan mengenai datang dengan keberanian ke tahta kasih karunia terlihat menjadi kebalikan. Kebenaran dibelakang pernyataan ini adalah bahwa kita bersatu dengan Dia salam kurban penghapus dosa dan penebus salah, seperti juga pada persembahan yang lain. Ini, kemudian, adalah yang membawa kita maju, dalam partisipasi total, kepada pernyataan korban keselamatan, ‘Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan kurban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan (mengucap syukur – Terjemahan Inggris) nama- Nya. Dan janganlah kamu lupa berbuat baik dan memberi bantuan, sebab kurban-kurban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah.’ Ibr 13:15, 16. Kita berpartisipasi dalam kurban penghapus dosa ketika kita mengaktifkan pengampunan Allah dan proses untuk penghapusan dosa dari kehidupan kita (atau kehidupan yang lain). Darah Kristus telah dipercikkan tujuh kali di tutup pendamaian (kursi kemurahan – terjemahan Inggris) untuk mengaktifkan pengampunan dan kemurahan bagi semua yang mendekat. Jadi semua persembahan adalah ‘demi kemurahan Allah (oleh kemurahan Allah – terjemahan Inggris’. Rom 12:1. Ketika kita bersatu dengan Kristus dalam kurban penghapus dosa, pemisahan dibuat antara yang diletakkan di atas mezbah didalam kemah, dan yang dibakar diluar kemah di tempat tahir. Im 4:9-12. Ginjal (Ibrani dan yang dibakar diluar kemah di tempat tahir. Im 4:9-12. Ginjal (Ibrani. kilyah, kekang/kontrol) dan lemak dari korban dibakar di mezbah yang di dalam. Ginjal mewakili bagian dalam kita, hati kita diuji oleh Tuhan di atas mezbah. ‘Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin (pikiran – terjemahan Inggris) [Ibr. kilyah], untuk memberi balasan kepada setiap  orang setimpal dengan … hasil perbuatannya’. Yer 17:10. Jika kita menemukan pertobatan benar dalam hati kita dan keinginan yang sungguh-sungguh untuk bersatu dalam persembahan Kristus, maka proses untuk penghapusan dosa dalam kehidupan kita dapat menjadi efektif. Tubuh dari persembahan dibawa keluar kemah untuk dibakar di tempat tahir. ‘Karena tubuh binatang-binatang yang darahnya dibawa masuk ke tempat kudus [untuk mengaktifkan kemurahan dan pengampunan] oleh Imam Besar [sebagai kurban] penghapus dosa, dibakar di luar perkemahan’. Ibr 13:11. Tempat tahir mengindikasikan kehidupan, rumah dan konteks dimana kita berada diluar dari kemah dan persembahan perjamuan, tempat dimana elemen kedagingan harus diproses hari demi hari. Adalah di dalam konteks kehidupan keseharian kita, proses ganjaran dan pembersihan terjadi. Seperti Kristus diganjar dan dibuat menderita oleh Bapa di taman Getsemani, demikian juga kita menanggung ganjaran untuk penghapusan dosa dan untuk warisan dan kedewasaan kita sebagai anak. Api yang membakar di tempat tahir membedakan antara hal-hal yang diberikan kepada kehancuran dan hal-hal yang diberikan kepada Tuhan dan dapat dimurnikan oleh api.
Dari pengertian tersebut dapatlah dikatakan bahwa kurban-kurban yang dipersembahkan oleh Israel kepada Allah dalam Perjanjian Lama adalah merupakan pengganti (substitusi) nyawa mereka sendiri. Gagasan ini jelas terlihat dalam peristiwa kurban-kurban yang dicurahkan darahnya. Dalam hal ini, darah bukan unsur yang mengandung tenaga gaib, tetapi diterima Allah sebagai pengganti nyawa atau sebagai tebusan orang yang beribadah itu.
            Dalam melaksanakan kurban bakaran tidak akan terlepas dari seorang imam. Imam harus seorang yang diurapi. Ungkapan imam yang diurapi tertdapat hanya dalam imamat, karena imam-imam di Yerusalem biasanya di sebut imam saja dan tidak ada penekanan imam itu diurapi. Dan hanya raja Daudlah yang diurapi karena dia mengepalai kerajaan dan ibadah. Imam mewakili bangsa Israel di depan Allah dan memimpin upacara keagamaan atas nama mereka. Sebab itu jika imam bersalah dalam melaksanakan ritual bangsa pun ikut didalamnya.
2.2.1. Fungsi dari Kurban Penghapus Dosa
Kurban yang paling penting adalah kurban penghapus dosa, yang selalu mendahului kurban-kurban yang lainya dan memainkan peranan yang amat penting pada hari raya pendamaian. Karena seseorang yang berbuat dosa baik di sengaja atau tidak di sengaja maka ia harus membawa kurban domba atau kambig sebagai penghapus dosa. Ketika kita melihat definisi korban itu sendiri sebenarnya sudah mengisyaratkan betapa pentingnya kurban itu sendiri. Jika diperhatikan lebih jauh  mengapa dalam kitab Imamat sangat ditekankan persembahan korban dimana pasal satu sampai pasal tujuh dengan detail membahas peraturan-peraturan  persembahan kurban yang harus dilakukan oleh umat Tuhan pada waktu itu, jelaslah betapa pentingnya kurban itu di dalam Perjanjian Lama. 
Jika kita perhatikan persembahan kurban binatang merupakan tema penting dalam seluruh Kitab Suci. Ketika Adam dan Hawa berdosa, Allah mengorbankan binatang untuk menyediakan pakaian bagi mereka (Kejadian 3:21). Kain dan Habel membawa persembahan kepada Allah. Persembahan Kain tidak diterima karena dia mempersembahkan buah-buahan sedangkan persembahan Habel diterima karena dia mempersembahkan "anak sulung dari kambing dombanya" (Kejadian 4:4-5). Setelah banjir surut, Nuh mempersembahkan binatang kepada Allah. Persembahan Nuh ini merupakan persembahan yang berbau harum yang menyenangkan Tuhan (Kejadian 8:20-21). Allah memerintahkan Abraham untuk mempersembahkan Ishak anaknya. Abraham taat kepada Allah, namun ketika Abraham siap mempersembahkan Ishak, Allah campur tangan dan menyediakan seekor domba jantan untuk mati menggantikan Ishak (Kejadian 22:10-13). Kurban adalah salah satu aspek yang sangat penting dalam ibadat orang Israel. Jika seorang imam berbuat dosa, atau seluruh komunitas itu bersalah karena berbuat dosa, maka seekor lembu jantan harus di kurbankan dan darahnya di bawa ke dalam Kemah Suci dan di percikan di depan tabir penyekat tempat kudus. Lemak, kedua buah pinggang dan umbai hati lembu itu harus di bakar di atas mezbah kurban bakaran, tidak ada yang boleh di makan dari kurban ini.  
 Pulpit Commentary menjelaskan begini: “The offerer’s  faith is truly needful as the victim he brings. ‘Without faith it is impossible to please God’ (= Iman dari si pemberi korban sama perlunya seperti kurban yang ia bawa. ‘Tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah.’) Ibr 11:6  “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah”. Dalam Imamat 4,5,6 dan 7 diuraikan kepada kita hukum-hukum kurban penghapus dosa dan kurban penebus salah. Kurban penghapus dosa bermaksud memperbaiki hubungan dengan Allah kembali dan untuk menebus dosa. Kurban penghapus dosa ini dipersembahkan pada hari Pendamaian Besar untuk menebus dosa pada imam dan segenap bangsa Israel. Sedangkan korban pengahapus salah adalah kurban ganti rugi kepada orang yang dirugikan. Dalam kurban penghapus dosa jika seorang imam yang melakukan dosa maka ritual itu akan di ikuti oleh seluruh rakyat. Untuk menghapus dosa seorang imam lembu jantan yang di kurbankan, ketika lembu jantan di persambahkan karena dosa imam maka ada beberapa yang berhubungan dengan darah. Yang pertama adalah sesudah lembu jantan di sembelih darahnya di kumpulkan dalam mangkok dan imam masuk ke dalam tempat kudus dari pelataran luar dan memercikan sedikit darah di depan tabir sebanyak tujuh kali. Yang kedua imam membuhbuhkan sedikit darah pada tanduk-tanduk mezbah pembakaran ungkupan yang terletak dalam tempat kudus. Dan yang ketiga adalah imam besar keluar dari tempat kudus dan mencurahkan secara perlahan semua sisa darah tersebut pada bagian bawah mezbah korban bakaran itu. 
Dalam semua ritual tidak ada bukti dosa manusia dipindahkan pada ternak. Atau ternak yang dibebani dengan dosa menjadi busuk dan menderita hukuman sebagai pengganti orang mempersembahkanya. Imam-imam tidak makan ternak yang dibebani dengan dosa demikian, dan dikatakan jika lemaknya menjadi bau yang menyenangkan hati Tuhan. Dan kurban penghapus dosa itu dipersembakan pada waktu-waktu yang tidak ditentukan sesuai dengan kebutuhan.[3]
Jadi dengan persembahan korban manusia diberi kesempatan untuk memuliakan dan menghormati Tuhan yang hidup, memelihara persekutuan dengan Dia dan melalui kurban manusia diberi kesempatan menerima penebusan ketika manusia melakukan dosa tetapi itu adalah sementara. Namun kurban khusunya dalam PL adalah sesuatu yang sangat penting dan begitu ditekankan.















Bab III
Relevansi bagi masa kini
3.1 Relevansi Bagi Jemaat
            Dalam kehidupan sehari-hari pastilah ada beberapa hal yang kita tidak sengaja lakukan, termasuk berbuat dosa dengan tidak di sengaja. Setelah saya membaca dan mempelajari kurban penghapus dosa. Saya mempuyai sebuah relevansi bagi jemaat Tuhan masa kini yaitu jemaat hendaknya mengkoreksi diri setiap harinya apakah dalam berkehidupan melakukan dosa. Di sini hendaknya orang yang berdosa tidak mencari alasan untuk membenarkan diri tetapi harus meminta pengampunan kepada Allah, dengan cara ini hubungan yang benar akan terjalin dengan Allah.

3.2. Relevansi Bagi pelayan Tuhan
            Dalam kurban pengahapus dosa, dosa yang paling parah adalah ketika sebuah imam melakukan dosa. Karena jika imam salah dalam melakukan sebuah cara atau ritual maka jemaat atau bangsanya akan ikut bersalah. Oleh sebab itu imam harus melakukan kurban penghapus dosa. Ketika kita tarik pada saat ini hal ini masih relevansi, hamba Tuhan atau pelayan Tuhan harus selalu mengkoreksi dirinya apakah telah berbuat dosa atau tidak. Jika telah berbuat dosa seorang hamba Tuhan atau seorang pelayan Tuhan hendaknya meminta pengampunan kepada Allah.
             





[1] Peter Dominy. Melihat ke dalam Perjanjian Lama.(Bandung. Yayasan Kalam Hidup. ) cet.pertama hal.182
[2] William Dyrness, Tema-Tema Dalam Teologi Perjanjian Lama, (Malang: Penerbit Gandum Mas, 1992), cet.  kedua, hlm.  133.

[3] Pdt. Dr. Robert M. Paterson. Kitab Imamat.(Jakarta.BPK Gunung Mulia. 1994 ) hal. 77