Selasa, 20 Maret 2018

Kristologi di dalam Injil Lukas


by: Desy Ratna Sari
 Kristologi dalam Injil Lukas


Bab  I
Pendahuluan
1.1. Latar Belakang Masalah
Yesus merupakan seorang tokoh yang menimbulkan perdebatan semasa hidup-Nya. Kehidupan dan karya Yesus menjadi sorotan dari orang-orang yang hidup pada zaman-Nya. Pada awal kemunculan- Nya, orang-orang yang hidup di sekitar-Nya melihat dan mengalami bersama kehidupan dan karya yang dilakukan oleh-Nya. Mujizat-mujizat yang dilakukan Yesus, membuat orang-orang mulai bertanya, siapakah gerangan orang ini, sehingga Dia dapat melakukan perbuatan- perbuatan ajaib. Respon tertulis terhadap Yesus itu, muncul ketika Ia sudah menghilang dari  sejarah, yang sekarang dapat dilihat dalam bentuk karangan-karangan yang dikumpulkan dalam Perjanjian Baru. Apa yang Perjanjian Baru ungkapkan tentang Yesus, bukanlah semata-mata merupakan suatu laporan sejarah tentang kehidupan dan karya-Nya, tentang apa yang diamati dan dialami oleh orang-orang yang hidup di zaman-Nya, melainkan semuanya itu merupakan kesaksian iman kepercayaan orang-orang Kristen kepada Yesus. Dan yang menyoroti tentang Yesus salah satunya adalah Injil Lukas. Ada beberapa hal yang disoroti oleh Injil tentang Kristologi yaitu Yesus sebagai Anak Manusia, Yesus sebagai Mesias dan Yesus sebagai Tuhan. Penulis akan membahas lebih lanjutnya dalam Bab II.
1.2.Rumusan  Masalah
1.2.1.       Apa pengertian Kristologi dalam ilmuTeologi?
1.2.2.       Bagaimana Kristologi dalam Injil Lukas?
1.3.Tujuan
Dalam penulsan paper ini berkaitan dengan judul yaitu Kristologi dalam Injl Lukas, penulis ingin mencoba memberikan penjelasan yang didapat dari beberapa sumber buku yang membahas Kristologi dalam Injil Lukas.



Bab II
Pembahasan
2.1. Latar Belakang Injil Lukas
Penulis Injil Lukas adalah Lukas, dimana tanggal penulisan Injil ini adalah Tahun 60-63. Tema injil Lukas adalah Yesus, Juruselamat yang Ilahi dan Manusiawi Injil. Lukas adalah kitab pertama dari kedua kitab yang dialamatkan kepada seorang bernama Teofilus (Luk 1:1,3; Kis 1:1). Lukas adalah satu-satunya orang bukan Yahudi yang menulis sebuah kitab di dalam Alkitab (Kol 4:14).[1] Roh Kudus mendorong dia untuk menulis kepada Teofilus guna memenuhi suatu kebutuhan dalam jemaat yang terdiri dari orang bukan Yahudi akan kisah yang lengkap mengenai permulaan kekristenan
Dari surat-surat Paulus, kita mengetahui bahwa Lukas adalah seorang saudara "yang kekasih, seorang dokter" (Kol 4:14) dan seorang teman sekerja Paulus yang setia (2Tim 4:11; File 1:24). Dari penulisan Lukas sendiri kita mengetahui bahwa ia seorang yang berpendidikan tinggi, penulis yang terampil, sejarahwan yang teliti dan teolog yang diilhami. Ketika ia menulis Injilnya, agaknya gereja bukan Yahudi belum memiliki Injil yang lengkap atau yang tersebar luas mengenai Yesus. Matius menulis Injilnya pertama-tama bagi orang Yahudi, sedangkan Markus menulis sebuah Injil yang singkat bagi gereja di Roma. Orang percaya bukan Yahudi yang berbahasa Yunani memang memiliki kisah-kisah lisan mengenai Yesus yang diceritakan oleh para saksi mata, juga intisari tertulis yang pendek tetapi tidak suatu Injil yang lengkap dan sistematis (Luk 1:1-4). Jadi, Lukas mulai menyelidiki segala peristiwa itu dengan saksama "dari asal mulanya" (Luk 1:3). Barangkali ia mengerjakan penelitiannya di Palestina sementara Paulus berada di penjara Kaisarea (Kis 21:17; Kis 23:23--26:32), dan menyelesaikan Injilnya menjelang akhir masa itu atau segera setelah ia tiba di Roma bersama dengan Paulus (Kis 28:16). Halley mengatakan, bahwa silsilah Yesus berperan sebagai pembimbing untuk dapat menelusuri kesetiaan Allah dalam sejarah dunia dimana garis keturunan yang dalamnya nyata suatu perjanjian terpelihara selama 400 tahun (Halley,1979)[2].
 Pokok istimewa yang ditekankan oleh injil Lukas adalah kemanusiaan Yesus. Sama seperti para pengarang kitab-kitab Injil lainnya, iapun menggambarkan Yesus sebagai anak Allah; tetapi ia lebih banyak melukiskan rasa kasih Yesus terhadap mereka yang lemah, menderita dan dibuang dari masyarakat ramai. Peradaban Yunani menghasilkan kebudayaan, Filsafat, kebijaksanaan, akal budi keindahan dan pendidikan.           Pesan Utamanyalah ,”Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” (Luk 19:10). Ia mengetengahkan Yesus Kristus sebagai Anak Manusia yang berbelaskasihan, yang datang untuk hidup ditengah orang-orang berdosa, mengasihi, menolong dan mati bagi mereka. Pesan untuk semua orang yang ditekankan Lukas adalah pada keuniversalan Yesus Kristus dan Penyelamatan-Nya: “Kesukaan besar untuk seluruh bangsa” (Luk 2:10).[3] Sebab itu untuk menarik pikiran Yunani yang bersifat ilmiah, budaya dan filsafat, maka Lukas dalam kisahnya yang agak lengkap, tersusun dan klasikal (mendekati kesenian dan kesusasteraan Yunani), yang dimana Injil ini mendapat julukan “buku terindah dari segala buku yang pernah ditulis” karena Injil ini melukiskan keindahan dan kesempurnaan hidup Yesus yang mulia, yakni manusia yang ideal dan universal.[4]
2.2.Pengertian Kristologi dalam  Ilmu Teologi
Pertanyaan mengenai siapakah Yesus Kristus, adalah pertanyaan yang penting sekali dijawab oleh setiap orang. Berdasarkan judul yang telah diberikan, penulis akan berusaha memaparkan Kristologi yang terdapat dalam injil Lukas. Teologi Dalam pembagian cara lama dan ilmiah, Kristologi dimasukkan dalam rumpun Teologi Sistematika-Dogmatika. Kristologi bagi umat Kristen merupakan penyataaan (wahyu) Allah kepada manusia melalui kedatangan Kristus. Kata 'Kristologi' berasal dari bahasa Yunani, Χριστός (kristos artinya Kristus) dan λόγος (logos artinya logi, kata-kata, ilmu), singkatnya; Ilmu tentang Kristus, pembicaraan tentang Kristus ini terkait dengan umat Kristen memahaminya dalam kehidupan sehari-hari; Yesus pada masa lampau hingga masa kini, selama perjalanan itulah maka terus digeluti karena masih terkait dengan masalah-masalah di setiap zaman.
Kristologi dan ajaran Trinitas tidak dapat dipisahkan satu terhadap yang lainnya, baik dalam sejarah, sistematika dan dogmatika. Selain itu, aspek penting lain yang menyertai pembicaraan ini adalah mengenai keselamatan atau soteriologi. Pembicaraan tentang Kristus merupakan ajaran Kristen yang mempercayai Yesus Kristus sebagai Tuhan. Perdebatan tentang Ketuhanan Yesus masih berlangsung sampai saat ini (setidaknya pada beberapa kalangan). Adanya perdebatan seputar paham Trinitas (Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus) yang berbeda-beda, utamanya tampak dalam pemikiran Ireneus, Tertulianus dan Origenes pada masa lampau. Sampai saat ini masih ada perdebatan tentang keilahian mengenai kemanusiaan Kristus dan Keilahian Kristus terus terjadi. Tetapi dengan hal ini penulis setuju dengan bebarapa pakar yang bisa diketahui dari uraian seorang tokoh dalam Gereja Katolik Roma, Karl Rahner pada tahun 1960an yang menegaskan kembali bahwa Yesus adalah seratus persen Allah dan seratus persen manusia.[5] Konsili Nicea menegaskan Kristus sehakikat dengan Allah Bapa, konsili Efesus Neotorianisme, menekaknkan kembali bahwa Yesus adalah Tuhan dan manusia itu, adalah satu dan sama. Konsili Chalcedon menegaskan Yesus Kristus sungguh Tuhan dan sunggu manusia yang bersatu dalam satu pribadi Ilahi tak tercampur, terbagi dan tak terpisah.  Ada hal yang lebih lanjut mengenai Injil Lukas ini yaitu:
2.2.1.      Pokok-pokok yang menonjol
2.2.1.1.Pribadi Kristus, Lukas memperkenalkan Yesus sebagai Anak Allah (Luk 1:35), tetapi terutama sekali sebagai Anak Manusia.
2.2.1.2.Pekerjaan kristus dalam rangka penebusan. Ayat-ayat yang menyebutkan soal anugrah dan berita kesukaan terdapat Injil ini. Kristus adalah Jururselamat manusia (Luk 19:10).
2.2.1.3.Pekerjaan Roh Kudus, Roh kudus lebih banyak disebutkan dalam Injil Lukas dibandingkan dengan dalam Injil Matius dan Markus.
2.2.1.4.Pelayanan Kristus kepada orang bukan Yahudi (Luk 2:32).
2.2.1.5.Kebutuhan orang-orang yang berkedudukan rendah. Kaum perempuan (Luk 8:1-3, 24:10, 10:38-42 dan 18:1-8), anak-anak, dan mereka yang dibuang oleh masyarakat sering diceritakan dalam Injil ini.
2.2.1.6.Lukas melukiskan Yesus sebagi seorang yang tidak menolak musuh-musuh-Nya, tetapi menyanmpaikan kebenaran kepada mereka.
2.2.1.7.Perspektif sejarah, fakta sejarah sangan ditekankan dalam Injil ini.
2.2.1.8.Doa-doa Yesus, Doa Yesus merupakan bagian yang menonjol dalam Injil ini.
2.2.2.      Bagian yang khusus
2.2.2.1.Cerita tentang “Masa Kecil” Yesus dan Yohanes pembaptis (Pasal 1 dan 2).
2.2.2.2.Perjalanan Lawatan, dikenal sebagai sisipan utama (Luk 9:51- 13:14).
2.2.2.3.Perjalanan ke Emaus (Pasal 24).[6]
2.3. Kristologi dalam Injil Lukas
Dalam Injil Lukas Yesus digambarkan sebagai seorang ramah dan menyenangkan, bahkan Dia disebut sebagai “sahabat pemungut cukai dan orang berdos” (Luk 7:34). Dan Dia sendiri menempatkan diri-Nya sebagai pelayan ditengah-tengah murid-murid-Nya (Luk 22:17). Sejak kecil Yesus dikisahkan sebagai seorang anak yang menyenangkan (Luk 2:40,46, 52). Ia merasa sedih bahkan menangis melihat orang-orang yang tidak mau percaya kepada-Nya (Luk 13:34, 19:41).
Mengenai kehidupan kerohanian-Nya Yesus biasa beribadah dirumah ibadah pada hari sabat (4:16) dan Ia selalu mempunyai kehidupan berdoa (3:21, 5:16, 6:12, 9:18, 28-29). [7]
2.3.1.      Yesus sebagai Anak manusia
Ada beberapa kisah tentang “Anak manusia yang hanya dicatat oleh Lukas yaitu:
2.3.1.1.     Lukas 17:22
            “Dan Ia berkata kepada murid-murid-Nya: “Akan datang waktunya kamu ingin melihat satu dari pada hari-hari Anak manusia itu dan kamu tidak akan melihatnya”. Apa yang dimaksud dengan “hari-hari Anak Manusia”? salah satu artinya kemungkinan ialah menunjuk kepada hari-hari Anak Manusia dalam masa pelayanan-Nya, terutama pada waktu Ia dimuliakan diatas gunung, kisah kebangkitan dan kenaikan-Nya ke sorga. Inilah yang dimaksud dengan “hari-hari Anak Manusia”, yaitu masa pelayanan Yesus yang penuh dengan anugerah dan pengalaman rohani yang begitu berharga.
2.3.1.2.     Lukas 18:8
             “Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman dibumi?”. L. Morris mengkhawatirkan bahwa pada waktu itu, yaitu menjelang akhir zaman, terutama pada waktu Anak Manusia datang, akan kedapatan banyak orang yang tidak beriman. Hal ini sesuai dengan akhir zaman yang mengatakan: “pada waktu itu kamu akan diserahkan supaya kamu disiksa, dan kamu akan dibunuh dan kamu akan dibenci semua bangsa oleh karena nama-Ku, dan banyak orang akan murtad dan mereka akan saling menyerahkan dan saling membenci, tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat” (Mat 24:9-13, Mrk 13:12-13). Ayat-ayat ini patut menjadi fokus perhatian.
2.3.1.3.     Lukas 19:10
             “Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” Dalam awal pelayanan Tuhan Yesus Ia telah mengatakan: Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat (Luk 5:32). Dari dua kalimat diatas dapat disimpulkan bahwa semua orang telah berbuat dosa sehingga mereka dikatakan telah hilang atau tersesat. Dan Anak Manusia datang untuk menyelamatkan mereka dari belenggu dosa mereka. Istilah “datang” dapat dilihat dari dua sisi. Ia datang dari sorga, disini menunjukkan pada pra-eksistensi dan keilahian-Nya. Dan tujuan kedatangan-Nya ialah untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang. Disinilah Ia mencari dan menyelamatkan Zakheus dan keluarganya, sebagaimana yang disimpulkan dalam Lukas 19:10.
2.3.1.4.     Lukas 21:36
             Disni adalah salah satu contoh penggunaan istilah “Anak Manusia” yang berkenan dengan Prousia. Bagi seseorang yang bisa tahan berdiri dihadapan Anak Manusia tentunya berarti bahwa ia mewarisi kerajan Allah dan memiliki kehidpan kekal dalam arti yang sepenuhnya, yang disebut the ultimate salvation, yang dalam kitab Kitab Wahyu dikatakan “Lihatlah, kemah Allah ada ditengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka. Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu” (Luk 21:3-4).[8]
2.3.2.      Yesus sebagai Mesias (Luk 2:11,26, 4:18,41)
Lukas banyak sekali menyebutkan Yesus sebagai Mesias atau Kristus. Kita tahu bahwa Yesus disebut Kristus begitu Ia lahir (Luk 2:11,26). Ketika Ia berkhotbah di Nazaret Ia diurapi oleh Roh Tuhan yang menandakan bahwa Ia adalah Kristus (Luk 4:8). Namun Ia dengan keras melarang roh-roh jahat menyiarkan berita bahwa Ia adalah Mesias (Luk 4:41). Hal ini bukan berarti bahwa Yesus bukan Mesias atau Ia merahasiakan ke-Mesiasan-Nya, melainkan Ia tidak mau roh-roh jahat itu sebagai juru bicara-Nya. Ketika Yesus disalib dua kali Ia dicemooh orang dengan sindiran sebagai Kristus (Luk 23:35, 39). Tetapi sesudah kebangkitan Yesus sendiri, yang nota-bene telah bangkit dari kematian, dua kali mengatakan bahwa Mesias harus menderita untuk masuk kedalam kemuliaan (Luk 24:26, 46).  Bagaimana respon dari mansia dalam menghadapi pemberitaan Yesus sebagai Mesias? Terhadap pemberitaan ini kita dipanggil untuk bertobat dan percaya (Luk 5:32). Bagi Lukas sejak lahir Yesus adalah Tuhan dan Kristus (Luk 2:11), bahkan sebelum Yesus lahir, Iapun telah disebutkan “Anak Allah” (Luk 1:35).
Lukas sering menggunakan istilah “dalam nama Yesus kristus”. Dari sini dapat dilihat bahwa Lukas menaruh bobot yang cukup berarti pada nama persosn Kristus itu. Memang seperti pada umumnya nama mewakili sifat, karakter dan pribadi seseorang. [9]
2.3.3.      Yesus sebagai Tuhan
Dari nama-nama Tuhan Yesus yang sering dipakai oleh penulis Alkitab ialah “Tuhan” (103 kali di Injil Lukas). Padahal Yesus hanya dipanggil sebagai Juruselamat hanya 18 kali dalam seluruh Perjanjian Baru. Memang Yesus sebagai Tuhan sangat nyata dalam tulisan Lukas, bahkan Yesus disebut sebagai Tuhan begitu Ia lahir (Luk 2:11). Dalam pasal satupun sebelum Yesus lahir Ia telah beberapa kali disebut sebagai Tuhan (Luk 1:43-45,76). Ketika Simon Petrus diperintahkan Tuhan menebarkan jalanya untuk menangkap ikan, ia berdalih sambil mengatakan: Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa”  Tetapi setelah ia menyaksikan, mengalami dan memperoleh banyak ikan ia mengatakan: “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini orang berdosa (Luk 5:5,8). Dalam mengisahkan Yesus membangkitkan anak muda di Nain, Lukas juga menyebutkan Yesus sebagai Tuhan (Luk 7:13). Kisah pengutusan tujuh puluh murid untuk memberitakan Injil  (Luk 10:1 (Luk10:1), kisah Yesus mengunjungi rumah Marta dan Maria, Yesus disebut dua kali sebagai Tuhan (10:39,41).[10]
2.3.4.      Nama-nama lain Yesus dalam injil Lukas
Nama-nama lain Yesus yang dicatat dalam Injil Lukas: Ia dipanggil sebagai Guru/Rabi (5:5, 8:24,45; 9:33,38, 10:25, 17:13). Tiga kali Lukas memanggil Yesus sebagai Juruselamat (2:11, 13:23). Nabi (Luk 7:16, 9:8,19. 13:33, 24:19). Yesus juga dipanggil sebagai Orang Benar (Luk 7:52, 22:14, 23:47). Dan akhirnya Ia adalah Raja (Luk 19:38, 23:2-3, 37-38).[11]








Bab III
Penutup
3.1.Kesimpulan
Dari semua pemaparan dan pembahasan yang telah dijelaskan dari awal hingga akhir, maka dapat disimpulkan bahwa Pribadi Yesus saat Dia ada di dunia ini adalah Dia adalah Allah dan Dia sebagai manusia yang sejati.  Penulis Injil Lukas adalah Lukas, dimana Tema dari  injil Lukas adalah Yesus, Juruselamat yang Ilahi dan Manusiawi Injil. Lukas adalah kitab pertama dari kedua kitab yang dialamatkan kepada seorang bernama Teofilus (Luk 1:1,3; Kis 1:1). Pokok istimewa yang ditekankan oleh injil Lukas adalah kemanusiaan Yesus. Sama seperti para pengarang kitab-kitab Injil lainnya, iapun menggambarkan Yesus sebagai anak Allah; tetapi ia lebih banyak melukiskan rasa kasih Yesus terhadap mereka yang lemah, menderita dan dibuang dari masyarakat ramai. Pribadi Kristus, Lukas memperkenalkan Yesus sebagai anak Allah (Luk 1:35), tetapi terutama sekali sebagai Anak Manusia.
Pekerjaan kristus dalam rangka penebusan. Ayat-ayat yang menyebutkan soal anugerah dan berita kesukaan terdapat Injil ini. Kristus adalah Jururselamat manusia (Luk 19:10). Pekerjaan Roh Kudus lebih banyak disebutkan dalam Injil Lukas dibandingkan dengan dalam Injil Matius dan Markus. Pelayanan Kristus kepada orang bukan Yahudi (Luk 2:32). Pesan Utamanyalah ,”Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” (Luk 19:10).[12] Ia mengetengahkan Yesus Kristus sebagai Anak Manusia yang berbelaskasihan, yang datang untuk hidup ditengah orang-orang berdosa, mengasihi, menolong dan mati bagi mereka. Dan dapat disimpulkan Lukas menekankan untuk semua orang adalah pada keuniversalan Yesus Kristus dan Penyelamatan-Nya: “Kesukaan besar untuk seluruh bangsa” (Luk 2:10)



[1] Dr. B. J. Boland, 2000. Tafsiran Alkitab Injil Lukas (Jakarta: BPK Gunung Mulia). hlm.4.
[2] Pdt. Dr. Marulak Pasaribu, 2005. Eksposisi Injil Sinoptik (Malang: Yayasan Gandum Mas). hlm.203
[3] Wareen W. Wiersbe, 2002. Biarlah Dunia Mengetahui Bahwa Yesus Peduli (Bandung: Yayasan Kalam Hidup). hlm. 7.
[4] Henry H. Halley, 1965. PENUNTUN KEDALAM PERJANJIAN – BARU,  Surabaya: YAKIN). hlm. 88.
[5] https://id.wikipedia.org/wiki/Kristologi. diakses 18 Januari 2017, pukul 09:49 Wib.
[6] Irving L. Jensen, 2000. Lukas (Bandung: Yayasan Kalam Hidup). hlm.19-20.
[7] Dr. David Iman Santoso, 2012. Theologi Lukas (Malang: Literatur Saat). hlm.67-75.
[8] Ibid., hal.68-71
[9] Ibid., hal.71-74
[10] Ibid., hal. 75-76
[11] Ibid., hal. 79
[12] Jasper Klapwijk, 2015. Kabar Baik Dari Perjanjian Baru (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih). hlm.54-55.

Selasa, 06 Maret 2018

Kerajaan Allah Menurut Kisah Para Rasul


by: Elisabet
Kerajaan Allah Menurut Kisah Para Rasul

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang Masalah
Kitab Kisah Para Rasul merupakan buku terpenting di dalam Perjanjian Baru. Kita biasanya menyebut Kisah Para Rasul disingkat menjadi “Kisah” saja. Akan tetapi, ternyata bku ini tidak memberikan atau mengklaim memberikan suatu catatan lengkap tentang perbuatan-perbuatan para rasul. Dalam bahasa Yunani tidak ada kata the (katang sandang tertentu) di depan kata Kisah. Judul sebenarnya dari Kitab ini adalah “Perbuatan-perbuatan Para Rasul (Acts of Apostolic Men); dan tujuan kitab ini ialah memberikan kepada kita serangkaian perbuatan berani dari figur-figur kepahlawanan yang besar pada masa Gereja Perdana. Walaupun buku ini sendiri tidak mengatakannya, sejak awal Lukas diyakini sebagai penulisnya. Tentang Lukas sendiri, Lukas adalah seorang dokter, Lukas adalah seorang pembantu yang sangat berharga bagi Paulus dan seorang rekan yang paling setia, sebab Lukas telah menemani Paulus ketika ia terakhir di penjarakan. Satu hal yang dapat disimpulkan, bahwa Lukas adalah seorang bukan Yahudi. Lukas menulis bukunya, baik Injil Lukas maupun Kisah Para Rasul, kepada seseorang yang bernama Teofilus (Luk.1:3; Kis.1:1). Kita hanya dapat menduga siapa Teofilus itu. Lukas 1:3 menyebeutnya “Teofilus yang mulia”. Ungkapan ini sebenarnya berarti “Paduka yang Mulia”, yang menandakan Teofilus pastilah seorang yang berkedudukan tinggi dalam pemerintahan Romawi. Ada tiga kemungkinan: pertama, mungkin saja Teofilus bukan nama sebenarnya. Kedua, jika Teofilus adalah nama yang sebenarnya, pastilah ia seorang pejabat tinggi Kerajaan Romawi. Ketiga, ada satu teori yang lebih romantis daripada dua hal tersebut. Hal ini berdasarkan kenyataan bahwa Lukas adalah seorang dokter. Pada masa itu, para dokter biasanya berstatus sebagai budak-budak. Mungkin Lukas adalah dokter pribadi Teofilus. Ketika Teofilus sakit keras dan hampir mati, Lukas dengan kemampuan dan pengabdiannya telah menyembhkan Teofilus. Dan sebagai tanda terimakasih, Teofilus memerdekakan Lukas.
Ada beberapa tujuan Lukas menulis kitab Kisah Para Rasul ini, yaitu untuk merekomendasikan kekristenan kepada pemerintah Romawi; menunjukan bahwa kekristenan itu untuk semua manusia di setiap negara; Kis.1:8 penyebarluasan kekristenan, yang saat itu sudah sampai ke Roma.[1] Tahun penulisan kitab Kisah Para Rasul ini diperkirakan antara tahun 70-80 sesudah Kristus. Hal ini sesuai dengan penahanan Paulus di Roma (Kis.28:30) suatu peristiwa, yang mestinya terjadi kira-kira pada tahun 60 sesudah Kristus.[2]

1.2.Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penulisan paper ini adalah Bagaimanakah Kerajaan Allah menurut kitab Kisah Para Rasul?

1.3.Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penulisan paper ini adalah untuk menjelaskan tentang Kerajaan Allah menurut kitab Kisah Para Rasul.













BAB II
ISI
Kerajaan Allah Menurut Kisah Para Rasul
2.1. Analisa dari Segi Retorika
2.1.1. Repetisi dan Inklusio
Pada bagian awal Kisah Para Rasul, istilah “Kerajaan Allah” muncul dua kali, yaitu pada Kisah Para Rasul 1:3 dan 6. Istilah ini tampaknya menjadi tema dasar di awal Kisah Para Rasul. Hal ini didukung oleh fakta bahwa hal “Kerajaan Allah” menjadi pokok pembicaraan antara Yesus dan murid-murid-Nya, yang kini dinamakan rasul-rasul. Yesus mengajarkan mereka perihal Kerajaan Allah dan menjelaskan bahwa waktu dan saat pemulihan Kerajaan Allah secara genap akan ditentukan Allah sendiri. Disini “Kerajaan Allah” dipandang dari segi “ke-akan-an”.
Pokok mengenai “Kerajaan Allah akan dipulihkan sepenuhnya” didukung juga oleh ucapan dua malaikat yang tiba-tiba hadir sesudah Yesus diangkat naik ke surga. Menurut mereka, Yesus akan datang kembali sebagaimana Ia pergi. Kedatangan-Nya kembali tentu mengingatkan pembaca pada ramalan di dalam Lukas bahwa pada saat kedatangan-Nya kembali, Kerajaan Allah secara genap akan dipulihkan (Luk.19:11-27; 21:27).
Tema “Kerajaan Allah” juga didukung oleh detail lain dalam episode kenaikan ini, yaitu “awan” (Kis.1:9). Awan yang menyertai Yesus naik ke surga menggambarkan awan yang akan menyertai Yesus turun pada kedatangan-Nya kembali, ketika Ia datang sebagai raja dari Kerajaan Allah. Hal ini dikatakan (tokoh) Yesus sendiri di dalam Lukas 21:27, “Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya.
Jadi, pada episode kenaikan di dalam Kisah Para Rasul, tema dasarnya ialah “Kerajaan Allah”. Dalam hal ini Kerajaan Allah dilihat dari dimensi keakanan. Sebagaimana di dalam Lukas, Kerajaan Allah pada prinsipnya memiliki dua dimensi, yaitu dimensi “sudah hadir” (Luk.4:21; 11:20; 16:16; 17:21) dan dimensi “akan hadir” (Luk.12:40; 17:24; 19:11-27; 21:27; 22:16, 18, 30; 23:42). Dengan demikian, bila kedua dimensi ini dipadukan, dapat disimpulkan bahwa Kerajaan Allah telah hadir pada saat Yesus berkarya di bumi dan akan terus digenapi secara sempurna sampai pada kedatangan-Nya kembali ke bumi.
Dimensi keakanan Kerajaan Allah pun tersirat dalam harapan para rasul akan kehadiran Kerajaan itu secara penuh. Harapan ini tersirat di dalam episode yang terjadi tak lama sesudah episode kenaikan yaitu “Matias dipilih menggantikan Yudas” (Kis.1:15-26). Pada dirinya, kisah ini memang bercerita tentang pengangkatan Matias sebagai rasul kedua belas untuk menggantikan Yudas Iskariot yang berkhianat dan telah mati. Namun, secara tersirat, kisah ini mengungkapkan pengharapan akan kedatangan Kerajaan Allah secara penuh. Dasar penafsiran ini ialah keterangan Lukas 22:30 bahwa para rasul akan menghakimi kedua belas suku Israel di dalam Kerajaan Allah yang akan datang. Penalarannya adalah bahwa untuk menghakimi kedua belas suku dibutuhkan kedua belas rasul sehingga “harus” diangkat rasul kedua belas mencerminkan pengharapan para rasul akan datangnya Kerajaan Allah secara penuh.
Selain itu, istilah “Kerajaan Allah” juga muncul dua kali secara eksplisit dibagian akhir Kisah Para Rasul (28:23 dan 31). Konteks dari istilah ini “Kerajaan Allah” ini adalah pemberitaan Paulus di Roma. Dalam konteks ini, berita tentang Kerajaan Allah selalu disertai dengan berita tentang Yesus. Artinya, “Kerajaan Allah” di sini lebih dipandang dari dimensi “kesudahan”, yaitu Kerajaan Allah sudah datang melalui diri Yesus.
Namun, tema “Kerajaan Allah” juga secara implisit diungkapkan dibagian akhir Kisah Para Rasul. Di dalam Kisah Para Rasul 28:20 diungkapkan bahwa Israel mengharapkan pemulihan Kerajaan Allah secara penuh (bnd. Kis.1:6). Dalam hal ini Kerajaan Allah lebih dipandang dari dimensi keakanan.
Jadi, pada bagian awal maupun diakhir Kisah Para Rasul tampaknya tema “Kerajaan Allah” ingin ditekankan. Namun, karena muncul diawal dan diakhir, maka terbentuklah struktur pemelukan (inklusio), yang secara tak langsung mengungkapkan bahwa berita mengenai Yesus – yang diberitakan baik melalui perkataan maupun perbuatan para rasul disepanjang cerita Kisah Para Rasul – adalah berita mengenai Kerajaan Allah (bnd. Kis.8:12; 14:22; 19:8; 20:25). Maka diagram inklusio Kerajaan Allah di seluruh Kisah Para Rasul adalah sebagai berikut:
AWAL                               TENGAH                       AKHIR
Kerajaan Allah  -  karya dan ajaran para rasul  -  Kerajaan Allah
Kerajaan Allah telah hadir dan akan hadir secara penuh, maka salah satu efek retorika yang diharapkan terjadi pada pembaca ialah pembaca diajak untuk percaya pada kehadiran-Nya dan berpartisipasi dalam Kerajaan Allah yang sedang berkembang menuju penggenapannya secara sempurna. Pembaca diajak untuk berpartisipasi penuh sebab keterlibatan mereka mengandung resiko sebagaimana yang sudah mereka saksikan sendiri dalam hidup Yesus (di Injil Lukas) dan para rasulnya (di Kisah Para Rasul), misalnya dimusuhi, dianiaya, dibunuh, atau dipenjarakan.
2.1.2. Peramalan
Ramalan mengenai kenaikan Yesus ke surga sudah diungkapkan di dalam Lukas 24:25-27. Dalam ramalan yang telah dinyatakan oleh para nabi dan seluruh Kitab Suci itu sekarang digenapi. Yesus sendiri juga sudah meramalkan, dalam bentuk cerita perumpamaan, bahwa Ia akan pergi kepada Allah untuk dinobatkan menjadi raja dan akan datang kembali sebagai raja (Luk.19:12). Jadi, pada dasarnya kenaikan ke surga merupakan kepergiaan-Nya untuk dinobatkan menjadi raja.
Namun, dalam episode kenaikan di dalam Kisah Para Rasul bukan kepergiaan-Nya itu yang ditekankan. Di dalam Kisah Para Rasul 1 hal yang ditekankan justru beberapa ramalan yang masih akan digenapi. Ada empat ramalan, yang disebutkan dalam pasal pertama:
1.      Ayat 5: ramalan bahwa rasul-rasul akan dibaptis dengan Roh Kudus sesuai dengan janji Bapa;
2.      Ayat 7: ramalan bahwa Kerajaan Allah akan dipulihkan, tetapi mengenai waktu dan saatnya Allah Bapa sendiri yang menentukan;
3.      Ayat 8: ramalan bahwa para saksi akan bersaksi sampai ke ujung bumi;
4.      Ayat 11: ramalan bahwa Yesus yang diangkat naik ke surga itu akan datang dengan cara yang sama sebagaimana Ia pergi.
Keempat ramalan itu memiliki kaitan erat satu sama lain. ramalan kedua mengenai pemulihan Kerajaan Allah, akan terjadi pada saat ramalan keempat digenapi yaitu saat Yesus datang kembali. Kerajaan Allah akan digenapi secara penuh pada kedatangan Yesus kembali. Sebab, pada kedatangan-Nya kembali, Yesus akan datang sebagai raja dalam kemuliaan-Nya untuk secara penuh memerintah Kerajaan Allah itu (Luk.19:11-29; 23:42; Kis.3:21; 17:31).
Namun, sebelum pengenapan kedua ramalan tersebut, ramalan pertama dan ketiga akan digenapi terlebih dahulu. Sebab, berita mengenai Injil Kerajaan Allah harus diberitakan lebih dahulu sampai ke ujung bumi; dan sehubungan dengan tugas pemberitaan Injil ini para rasul perlu diperlengkapi dulu dengan Roh Kudus, sebagaimana yang dialami Yesus dahulu (Luk.3:22; 21:12-13; Kis.1:5; 2:17-20).[3]
2.1.3. Transposisi adalah pergeseran dalam ruang dan waktu
Menurut laporan Lukas dalam Kisah para Rasul, mengira bahwa Kerajaan Allah akan diwujudkan tanpa suatu transposisi iman dari Yerusalem ke seluruh dunia. Mereka bertanya kepada Yesus, mungkin dengan rasa tidak sabar dan prihatin,: Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” perhatian mereka terutama sekali masih tertuju pada kedaulatan politis. Yesus dengan segera menekan pengharapan ini dan menjelaskan kepada mereka bahwa transposisi iman harus terjadi terlebih dulu. Katanya, “kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan diseluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (Kis.1:6-8).[4]
2.1.4. Karya Kristus melalui umat
Sebagaimana Injil Lukas mengetengahkan penggenapan janji-janji Perjanjian Lama, Kisah Para Rasul menceritakan realisasi janji Kristus kepada murid-Nya. Kisah Para Rasul merupakan lanjutan dari semua “yang dikerjakan dan diajarkan Yesus” (Kis.1:1), yang direalisasikan dan hidup dan pelayanan para rasul. Injil Lukas berakhir dengan perintah untuk “tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kuasa dari tempat tinggi” (Luk.24:49); Kisah Para Rasul dimulai dengan turunnya kuasa tersebut (Kis.2). Selain itu, pengajaran para rasul dalam Kisah Para Rasul berakar pada perbuatan-perbuatan Allah dalam Kristus yang memuncak kepada pencurahan Roh Kudus, dengan cara yang sama seperti pelayanan Yesus berkembang dalam terang perbuatan-perbuatan Allah dalam Perjanjian Lama. Apa yang Yesus kerjakan dan ajarkan itu merupakan awal dari Kerajaan Allah, yang disempurnakan ketika Ia datang kembali. Namun waktu diantara kedua kejadian itu bukan sekedar masa antara di mana kesaksian-kesaksian lisan dikemukakan, melainkan lebih merupakan perluasaan Kerajaan Allah yang diperkenalkan Yesus melalui kuasa Roh Kudus.[5]

Kisah Para Rasul 1:6
Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?
Seluruh pelayanan Yesus seolah-olah sangat tidak menguntungkan. Pusat dari berita-Nya adalah Kerajaan Allah (Mrk.1:14); tetapi, kesulitan yang ada adalah bahwa hal yang dimaksud Yesus dengan Kerajaan Allah itu berbeda dengan Kerajaan Allah bagi orang lain. Orang-orang Yahudi selalu membanggakan dirinya sebagai umat pilihan Allah. Dengan demikian mereka bermaksud menyatakan bahwa mereka ditentukan secara pasti menerima kesempatan yang istimewa dan sebagai bangsa yang mendominasi dunia. Seluruh bagian sejarah membuktikan, bahwa secara manusia hal itu tidak akan pernah terjadi. Palestina adalah sebuah negeri yang kecil, tidak lebih dari 120 mil panjangnya dan 40 mil lebarnya. Negeri ini merdeka, tetapi kemudian menjadi bagian dari kerajaan Babel, Persia, Yunani dan Romawi. Oleh karena itu, orang-orang Yahudi mengharapkan suatu saat nanti, di mana Allah akan memasuki sejarah manusia secara langsung dan saat itu Dia dengan kekuatan-Nya akan menciptakan kedaulatan dunia yang mereka impikan. Mereka memahami kerajaan secara politis. Bagaimana pemahaman Yesus tentang kerajaan? Mari kita lihat Doa Bapa Kami. Dalam doa ini ada dua petisi yang berdampingan:”Datanglah Kerajaan-Mu; Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga”. Sekarang, menurut corak karakteristik Ibrani, seperti dalam mazmur, bila ada dua hal yang mengambil bentuk paralel, maka yang kedua akan menguatkan yang pertama. Demikian juga dengan dua petisi ini. Petisi kedua adalah arti dari petisi pertama. Oleh karena itu, kita lihat bahwa kerajaan yang Yesus maksudkan ialah suatu masyarakat di dunia, di mana kehendak Allah akan terjadi secara sempurna, seperti di surga. Oleh karena itu, nyata sekali bahwa kerajaan itu didasari bukan oleh kekuasaan, melainkan oleh kasih.[6]
Kedatangan kerajaan-Nya, Kisah Para Rasul 1:3b. Hal ini mengacu kepada pemerintahan Allah atas hati dan kehidupan orang yang percaya kepada-Nya (Mat.6:33; 1 Yoh.3:1-9; Rm.14:17). Jika kita membaca keempat Injil, kita akan mendapati bahwa para rasul memiliki pandangan politik yang kuat atas kerajaan itu dan terutama memperhatikan kedudukan dan hak-hak mereka. Sebagai orang Yahudi yang loyal, mereka ingin mengalahkan musuh-musuh mereka dan membangun suatu kerajaan yang kokoh di bawah pemerintahan Mesias sebagai raja mereka. Mereka tidak menyadari bahwa pertama-tama harus ada perubahan spiritual di dalam hati bangsa itu (Luk.1:67-69). Tuhan Yesus tidak memarahi mereka karena mereka “banyak tanya” mengenai kerajaan yahudi yang akan datang (Kis.1:6). Bagaimanapun juga, Ia telah membuka pikiran mereka untuk memahami kitab suci (Luk.24:44). Jadi, seharusnya mereka sudah mengerti apa yang mereka tanyakan itu. Tetapi Allah tidak mengungkapkan kepada kita jadwal-Nya, maka sia-sia saja kalau kita berspekulasi. Yang penting bukanlah ingin tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tetapi justru bergiat pada masa kini untuk menyebarkan berita tentang Kerajaan rohani Allah. Inilah penekanan lain dari Kisah Para Rasul.[7]




BAB III
KESIMPULAN

Jadi Kerajaan Allah dalam Kisah Para Rasul adalah Kerajaan yang akan datang dan sudah datang. Kerajaan yang akan datang dapat dilihat dalam Kisah Para Rasul 28:20 yang diungkapkan dibagian akhir bahwa Israel mengharapkan pemulihan Kerajaan Allah secara penuh. Dalam hal ini Kerajaan Allah lebih dipandang dari bagian Kerajaan Allah yang akan datang.
Kerajaan yang sudah datang  dapat dilihat dalam Kisah Para Rasul 28:23 dan 31, dalam konteks ini berita tentang Kerajaan Allah selalu disertai dengan berita tentang Yesus. Artinya, Kerajaan Allah di sini lebih dipandang dari Kerajaan Allah yang sudah datang, yaitu Kerajaan Allah sudah datang melalui diri Yesus.
Jadi bila dipadukan Kerajaan Allah yang akan datang dan Kerajaan Allah yang sudah datang, dapat disimpulkan bahwa Kerajaan Allah telah hadir pada saat Yesus berkarya di bumi dan akan terus digenapi secara sempurna sampai pada kedatangan-Nya kembali ke bumi.











DAFTAR PUSTAKA
Barclay, William, 2010. Pemahaman Alkitab Setiap Hari. Jakarta: BPK Gunung Mulia
Brink, 1993. Tafsiran Alkitab Kisah Para Rasul. Jakarta: BPK Gunung Mulia
Wiersbe, Warren W. 2002. Dinamis Di dalam Kristus. Bandung: Yayasan Kalam Hidup


[1] William Barclay, 2010. Pemahaman Alkitab Setiap Hari. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Hal.1-6.
[2] Ds. H. V. D. Brink, 1993. Tafsiran Alkitab Kisah Para Rasul. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Hal. 11.
[6] Ibid. Hal. 14-15
[7] Warren W. Wiersbe, 2002. Dinamis Di dalam Kristus. Bandung: Yayasan Kalam Hidup. Hal. 11-12