Selasa, 06 Maret 2018

Bab 1 Kristannu Wijaya


BAB I
                                                    Pendahuluan                                 
1.1. Latar Belakang Masalah
Pada hakikatnya setiap manusia membutuhkan keselamatan. Hal ini didasarkan pandangan alkitab bahwa semua manusia pada dasarnya  telah mati akibat dosa, seperti yang di jelaskan oleh Rasul Paulus sebagai berikut: “Karena semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemulian Allah” (Roma 3:23). Keberdosaan tersebut mengakibatkan kematian, yang merupakan bentuk penghukuman atas dosanya (Roma 6:23).  Berdasarkan kondisi inilah manusia perlu untuk diselamatkan.
Namun demikian, kebutuhkan keselamatan itu tidak dapat di usahaan oleh manusia berdosa. Karena keselamatan adalah kasih karunia dari Allah. Hal tersebut dinyatakan oleh rasul Paulus sebagai berikut: “Sebab karena kasih karunia kamu di selamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.[1]” Fakta ini selaras dengan pernyataan French dalam bukunya Doktrin Kristen yang mengatakan bahwa keselamatan adalah karya Allah untuk membebaskan  dari perbudakan dosa  melalui pengorbanan Yesus Kristus.[2]
Keselamatan di dalam Kristus adalah sebuah hal yang pasti dan di jamin oleh Allah. Seperti yang di jelaskan oleh Paulus sebagai berikut: “Akan tetapi Allah menujukan Kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan di selamatkan dari murka Allah.”(Efesus 2:8-9). Memperoleh hidup yang kekal adalah sebuah hal yang pasti bagi setiap orang percaya. Karena semua orang yang sudah dipilih Allah, setelah percaya pada penebusan Kristus., dikaruniai iman oleh Roh Kudus sehingga mereka akan bertahan sampai pada akhirnya. Umat pilihan yang telah di tebus Tuhan pasti mau bertekun (perseverance) sampai akhir. Mereka di jaga dalam iman mereka sehingga tidak mungkin murtad dan tidak diselamatkan. Ketekunan orang-orang kudus merupakan respons manusia terhadap keselamatan yang di peroleh dengan Cuma-Cuma.[3]  
Namun keselamatan perlu di respon dengan iman oleh orang-orang percaya sesuai dengan  perkataan Yohanes sebagai berikut: “Karena begitu besar kasih   Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan  Anak-Nya  yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya  kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. ”(Yohanes 3:16). Iman di butuhkan dalam menjaga ketekunan orang-orang percaya agar tetap dalam rencana keselamatan Allah. 
Di dalam gereja terdapat sebuah ajaran yang mengajarkan keselamatan tidak perlu di kerjakan. pengajaran yang umumnya di kenal sebagai “sekali diselamatkan, tetap selamat” mengatakan bahwa keselamatan akan tetap di dapatkan, meskipun orang percaya berbuat dosa dan meninggalkan Yesus keselamatan akan tetap di dapatkan.[4] Padahal jelas terdapat ayat yang menganjurkan orang percaya untuk mengerjakan keselamatan sesuai dengan ungkapan Paulus dalam Filipi 2:12-13.
Selain pandangan di atas, penulis juga menemukan beberapa perbedaan tafsiran dari surat Filipi 2:12-13. Tafsiran yang pertama  menjelaskan bahwa ungkapan tetaplah kerjakan Keselamatan memiliki makna  berkaitan dangan selamat dari sebuah penganiayaan[5]. Sedangkan tafsiran yang kedua menjelaskan Keselamatan itu adalah keselamatan jiwa orang percaya . Dan merupakan keselamatan secara abadi[6]
Dengan munculnya beberapa pandangan dan berbagai tafsiran dari  Filipi 2:12-13, telah menyebabkan kebingungan di antara orang percaya, sehingga seakan-akan kepastian menjadi tidak pasti. Hal ini juga memunculkan keragu-raguan orang percaya terhadap keselamatan yang telah diperoleh.
Berdasarkan latar belakang tersebut maka penulis terdorong untuk melakukan Studi Eksegesis terhadap Ungkapan ”Tetaplah Kerjakan Keselamatan” di dalam Filipi 2:12-13 dan Aplikasinya bagi orang percaya masa kini.

1.2. Rumusan Masalah
         Pada penulisan karya ilmiah ini, terdapat pertanyaan-pertanyaan yang menjadi acuan masalah, yaitu:
1)      Apakah yang di maksud dengan kerjakanlah keselamatan menurut Filipi 2:12-13?
2)      Bagaimana Aplikasi kerjakanlah keselamatan bagi orang percaya masa kini ?

1.3. Tujuan Penulisan
         Penulisan skripsi ini selain untuk memenuhi sebagian dari tuntutan akademis dari study, karya ilmiah tersebut dimaksudkan untuk menemukan;
  1. Meneliti apa yang di maksud dari uangkapan Tetaplah Kerjakan Keselamatan. Agar setiap orang percaya mengerti dari ungkapan tersebut.
  2. Menjelaskan bagaimana Aplikasi dari ungkapan Tetaplah Kerjakan keselamatan  bagi orang percaya masa kini.

1.4. Ruang Lingkup Masalah
           Untuk menghindari pembahasan penelitian yang melebar dan tidak terfokus, oleh sebab itu penulis membatasi ruang lingkup masalah penelitian ini pada Studi Eksegesis Ungkapan “Tetaplah Kerjakan Keselamatanmu” di Filipi 2: 12-13 dan Aplikasinya bagi Orang Percaya Masa  Kini. Sehingga peneliti memperoleh hasil sesuai yang di harapkan.
1.5. Manfaat Penulisan
           Berdasarkan tujuan penulisan skripsi yang dinyatakan di atas, maka penulis mengharapkan penelitian ini dapat memberi manfaat: secara teoritis, skripsi ini memberikan sumbangsih antara lain: bagi orang percaya, memberikan pemahaman sehingga orang percaya dapat mengerjakan keselamatan yang telah diberikan oleh Tuhan Yesus kepada orang yang percaya kepada Tuhan Yesus. Secara praktis, penelitian ini bermanfaat bagi penulis dan bagi setiap orang percaya. Karena dengan demikian orang percaya dapat  mengaplikasikanya hasil study eksegesis ini dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga nama Tuhan dapat di muliakan melalui setiap perbuatan yang di perbuat oleh penulis.
1.6. Metodologi Penulisan
Metodologi penelitian ini menggunakan metode historikal-gramatikal-kontekstual-tekstual.  Metode ini berusaha untuk mengerti suatu teks dengan memerhatikan aturan gramatikal (tata bahasa) dan sastra, fakta historis, serta kerangka konteks.[7] Pertama, penulis berupaya mendeskripsikan konteks historis latar belakang dari teks Filipi 2:12-13 melalui kepustakaan dari berbagai sumber acuan seperti kamus Alkitab, ensiklopedia, buku-buku tafsiran Amsal, dan sebagainya. Penulis juga menggunakan buku-buku praktis yang berkaitan dengan pendidikan anak, keluarga kristen, kepemimpinan kristen, dan psikologi kristen.
Langkah kedua, penulis meneliti dan menganalisa susunan gramatikal teks Filipi 2:12-13 serta membandingkannya dengan beberapa varian teks berbahasa Yunani seperti naskah Tischendorf, dan Byzantium. Membandingkannya juga dengan varian teks bahasa Inggris seperti NKJV, dan ESV, serta terjemahan Indonesia seperti Terjemahan Baru, Bahasa Indonesia Sehari-hari. Dari perbandingan berbagai varian teks akan diperoleh hasil terjemahan sementara (pre-eliminary eksegesis), yang kemudian akan dikaitkan dengan isu utama dalam teks Filipi 2:12-13 sehingga pada akhirnya mendapatkan suatu hasil studi tentang Ungkapan “Tetaplah Kerjakan Keselamatan” di dalam Filipi 2:12-13
Langkah ketiga, penulis berusaha untuk mengkontekstualisasikan hasil temuan studi eksegesis teks Filipi 2:12-13 agar dapat diaplikasikan oleh orang percaya. Tehapan penelitian yang dilakukan penulis sebagai berikut.: pertama penulis membaca Alkitab yang berhungan teks Filipi 2:12-13. Berdasarkan konteks jauh dan dekatnya. Serta mengumpulkan buku-buku dan literature-literatur yang berkaitan dengan ungkapan “Tetaplah Kerjakan Keselamatan” dalam Filipi 2:12-13.
           Tahap yang kedua yang di lakukan oleh penulis adalah Penulis melihat bagaimana konteks budaya kitab Filipi dan melihat konteks teks Filipi 2:12-13 (historical). Dan  meneliti struktur ungkapan”Tetaplah Kerjakan Keselamatan” dalam filipi 2:12-13. Kemudian, melihat bagaimana penggunaan arti kata demi kata (leksikal) dan fungsinya (gramatikal) dalam teks keterkaitanya dengan teks lainya. Penulis juga melihat beberapa varian teks sebagai pembanding hingga akhirnya menemukan temuan teologis dari ungkapan “Tetaplah kerjakan Keselamatan” dalam Filipi 2:12-13.
           Tahap ketiga, penulis mengkontekstualisasikan temuan teologis dari hasil studi eksegesis “Tetaplah Kerjakan Keselamata” Filipi2:12-13 dan mengaplikasikanya bagi orang percaya. Penulis melihat jarak waktu yang memisahkan antara pembaca teks Filipi pertama dan menelitinya sehingga pembaca sekarang tidak meragukan kebenaran dan otoritas teks tersebut terkait dengan perintah yang barasal dari Paulus yang memerintahkan untuk tetap mengerjakan keselamatan yang sudah kita miliki. 
 1.7. Sistematika Penulisan
           Sistematika penulisan dibagi menjadi lima bab. Kelima bab ini di susun secara sistematis dengan tujuan agar pembaca memahami dan mengerti pokok pembahasan skripi ini. Sistematika penulisan yang di gunakan oleh penulis sebagai berikut:
           Bab I menjelaskan latar belakang Masalah, dimana terdapat beberapa Tafsiran yang berbeda mengenai Tafsiran Ungkapan “Tetaplah Kerjakan Keselamatan” sehingga membuat orang percaya mengalami kebingungan akan keselamatan tersebut. Dan tujuan penulisan ini adalah untuk menjawab keraguan-raguan terhadap keselamatan tersebut.
           Bab II, memaparkan landasan teori yang membahas konsep-konsep keselamatan yang terdapat di dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru serta konsep-konsep keselamatan menurut para Teolog. Setelah itu penulis memaparkan beberapa tafsiran Alkitab mengenai ungkapan “Tetaplah Kerjakan Keselamatan” di dalam Filipi 2:12-13. Selanjutnya penulis memaparkan hubungan kepastian keselamatan dengan ungkapan tetaplah kerjakan keselamatan.
           Bab III, melakukan proses eksegesis terhadap ungkapan “Tetaplah Kerjakan Keselamatan” di dalam Filipi 2:12-13, dengan metode historical-gramatikal-kontesktual. Penulis melakukan metode eksegesis meliputi: langkah eksegesis, latar belakang Kitab Filipi. Eksegesis teks Filipi 2:12-13, dengan cara membandingkan beberapa naskah berbahasa Yunani, seperti Byzantium, Septuaginta dan Tischendorf. Selanjutnya penulis mendapatkan terjemahan dari teks tersebut ke dalam bahasa Indonesia, sehingga menghasilkan temuan-temuan teologis.
           Bab IV, membahas mengenai aplikasi temuan teologis dari uangkapan “Tetaplah Kerjakan Keselamatan” di dalam Filipi 2:12-13 bagi orang percaya masa kini. Pembahasan tersebut berisi aplikasi dari hasil temuan teologis yang di dapat melalui studi eksegesis ungkapan “Tetaplah Kerjakan Keselamatan” didalam kitab Filipi 2:12-13.
           Bab V, di dalam bab ini membahas Simpulan. Penulis menyimpulkan hasil kajian teori studi pernyataan, “Ungkapan Tetaplah Kerjakan Keselamatan” di dalam Filipi 2:12-13, kemudian di tarik suatu simpulan.
1.8. Definisi Istilah
1.8.1. Eksegesis
           Istilah eksegesis berasal dari kata Yunani exegesomai (dibaca: exegesomai) yang berarti memimpin atau membawa keluar. Kamus memberi pengertian eksegesa adalah kata Yunani yang berarti penjelasan. Jadi yang di maksud eksegesis dalam penulisan ini adalah suatu usaha untuk menguraikan begian dari Alkitab dengan menarik keluar arti yang sesungguhnya agar diperboleh makna yang mendekati dengan maksud penulis asli.
1.8.2.  Tetaplah Kerjakan Keselamatanmu
           Tetaplah Kerjakan Keselamatan adalah sebuah ungkapan yang dikatan oleh Rasul Paulus. Paulus menyerukan kepada jemaat Filipi supaya rajin dan besungguh-sunguh di dalam kehidupan Kristen. Kerjakan keselamatanmu. Keselamatan itu adalah keselamatan jiwa kita. Dan merupakan keselamatan kita yang abadi. Kerjakan keselamatanm berasal dari bahasa yunani (katergazesthe). Kata kerja ini mengandung pikiran tentang penyempurnaan.
1.8.3. Filipi 2: 12-13
           Surat Paulus kepada Jemaat di Filipi (disingkat Surat Filipi) adalah salah satu kitab dalam Alkitab Kristen bagian Perjanjian Baru yang merupakan surat kiriman Rasul Paulus untuk jemaat Kristen yang ada di kota Filipi. Surat ini dikelompokkan sebagai surat-surat dari penjara bersama-sama dengan surat Paulus kepada jemaat di EfesusKolose, dan Filemon.Surat. Dalam pasal 2:12-13 Paulus menghimbau jemaat yang ada di Filipi untuk tetap mengerjakan keselamatan mereka dengan takut dan gentar.
1.8.4. Aplikasinya
           Kata Aplikasi berasal dari bahasa Inggris Application yang mempuyai arti penerapan. Penggunaan, pemakaian, menurut Kamus umum  bahasa Indonesia  aplikasi adalah Penggunaan atau penerapan.
1.8.5. Orang Percaya Masa kini
           Orang percaya Masa Kini, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ‘masa kini’ adalah masa yang terbaru (paling baru) atau mutakhir. Sedangkan dalam kamus bahasa Indonesia kontemporer, ‘masa kini memiliki arti waktu yang sedang berjalan,’ jadi yang dimaksud masa kini adalah masa yang terbaru dan waktu yang sedang berjalan saat ini.


[1]  Efesus 2:8-9
[2] French L. Aprington. 2015. Doktrin Kristen.(Yogyakarta: Andi), hlm. 276

[4] Michael L. Brown.2015. Hyper Grace (Jakarta:Nafiri Gabriel),hlm.321
[5] Jenus Junimen. 2012. Dapatkah Keselamatan Orang Percaya Hilang. (Yogyakarta:Andi) hlm.8
[6] mattew Henry,2015.Surat Galatia, Efesus, Filipi, Kolose. 1&2 Tesalonika, 1&2 Timotius,   Titus, Filemon. (Surabaya:Momentum)) Hlm.294
[7] Rainer Scheunemann. 2009. Panduan Lengkap Penafsiran Alkitab (Yogyakarta: ANDI), hlm. 17.

Kamis, 02 November 2017

Eskatologi dalam Teologi Paulus


Eskatologi dalam Teologi  Paulus

Bab 1
Pendahuluan
1.1. latar belakang
Dalam doktrin kekristenan tentunya banyak sekali doktrin. Misalnya saja doktin tentang akhir zaman. Pada hari-hari ini banyak orang yang berkata jika sudah termasuk pada akhir zaman. Bahkan ada beberapa hamba Tuhan yang berani menentukan waktu kiamat. Menurut rasul Paulus, orang kristen hidup di antara dua masa. Akhir zaman sudah hadir dengan kematian serta kebangkitan Kristus, namun zaman akhir masih akan datang dengan kedatangan-Nya yang kedua kali. Aspek esensial doktrin eskatolog ialah fakta futuristik, yaitu pengungkapan sejumlah peristiwa yang akan terjadi di masa yang akan datang melalui nubuat pada masa yang lampau. Sebab itu nubuat Alkitab menjadi fokus dominan dalam penyelidikan dan pembahasan doktrin eskatologi.
Akhir zaman selalu merupakan bahan spekulasi yang ramai dibicarakan oleh kalangan orang-orang percaya. Banyak yang terjebak. Dan akan mengatakan jika akhir zaman akan terjadi pada hari dan tanggal yang sudah di ketahui. Padahal hal itu adalah hal yang salah. Berbica mengenai tentang akhir zaman memang sebah hal yang belum terjadi, dan dalam Alkitab sendiri tidak terdapat kapan akan terjadi kiamat itu sendiri. Tetapi Tuhan dalam Alkitab memberi sebuah tanda-tanda bagaimana akhir zaman itu akan terjadi. Eskatologi adalah istilah yang sudah tidak asing lagi bagi kalangan semniari atau dunia akademik teologi Kristen. Bahkan, istilah tersebut cenderung di pahami secara luas dalam segmen jemaat yang umum. Sebab pokok itu sudah sering di ajarakan di dalam jemaat di lingkungan gereja-gereja tertentu[1]. Dan penulis dalam karya ini akan meneliti bagaimana akhir zaman yang dijelaskan oleh Paulus di beberapa surat yang di tulis oleh Paulus.
Paulus berfokus pada diri dan peristiwa yang melingkupi kehidupan Yesus. Jadi, suatu eskatologi yang bersifat Kristologis. Dengan konsep utama pada peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus, maka Paulus tampil sebagai teolog yang membangun teologi yang Kristosentris. Dan setelah ditetapkan bahwa eskatologi adalah pokok dari pikiran Paulus yang subur, para cendekiawan melajutkan dalam dua jurusan. Beberapa cendekiawan memegang pendapat bahwa eskatologi tetap konsisten dalam tulisan-tulisanya. Berpendapat bahwa dalam satu atau lain cara, tumpang tindih dari dua zaman itu dari pikiran Paulus.[2]
Berdasarkan semua pemikiran itu, Paulus menyatakan bahwa melalui kematian dan kebangkitan Yesus, keselamatan dan Kerajaan Allah sudah dialami oleh orang percaya. Hal ini memberi keyakinan kepada orang percaya bahwa tidak ada satupun masalah yang menakutkan mereka. Bahkan kematianpun bukan lagi sebagai sesuatu yang menakutkan karena  tidak ada satupun kuasa yang bisa memisahkan kita dari kasih Tuhan. Banyak persoalan yang timbul sehubungan dengan keterangan-keterangan Paulus mengenai kedatangan Yesus yang kedua kali, tetapi tidak dapat di ragukan bahwa ia mengharapkan tibanya peristiwa yang penting itu.[3]
Teologi Paulus secara hakiki bersifat eskatologis, sebab titik pangkal teologi Paulus  adalah kebangkitan Kristus. Sifat eskatologis kebangkitan Kristus, khususnya berhubungan dengan iman orang kristiani, yang ditegaskan Paulus di dalam Roma 3:21-26. kebangkitan Kristus mempunyai arti keselamatan (Roma 4:25). Maka dengan tegas Paulus dapat berkata bahwa kita hidup pada waktu, di mana zaman terakhir telah tiba (1 Kor. 10:11). Kendati segala realitas, diterima dengan iman, Paulus selalu menekankan juga pengharapan. Ia berani berbicara mengenai Allah pengharapan (Roma 15:13). Roh Kudus diberikan dalam hati kita sebagai jaminan dari semua yang telah disediakan (2 Kor. 1:22), oleh Roh, dan oleh karena iman, kita menantikan kebenaran yang kita harapankan (Gal. 5:5), kita menantikan pernyataan Tuhan kita Yesus Kristus. Pengarapan di sediakan di sorga (Kol. 1:5). Sebab Kristus adalah pengharapan akan kemuliaan (Kol. 1:27). Dalam Roma 8:25, Paulus menjelaskan pengharapan itu: jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikan dengan tekun (bnd. 15:4). Dari teologi Paulus ialah bahwa dalam zaman ini sudah terlaksana zaman yang akan datang, karena kebangkitan Kristus[4].
Paulus menerima pandangan tentang kedatangan Kristus kedua kali sebagai peristiwa yang sudah dekat yang akan terjadi melalui beberapa peristiwa yang mendahului kedatangan Kristus. Dalam surat kiriman 1 Tes. 4:13 dst, tanda-tanda yang disebutkan menyertai kedatangan Kristus yang kedua kali dan tanda-tanda yang menyertai mempunyai bentuk apokaliptis yang jelas: suara yang keras, seruan penghulu malaikat, bunyi sangkakala dan awan-awan. Dalam Roma 11:25 dst, ia memandang ke depan pada apa yang disebut masuknya jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain yang merupakan batu loncatan yang menentukan keselamatan Israel[5] Seperti yang akan kita amati berulang kali dalam karya ini, pandangan eskatologis seperti itu tentang keberadaan Kristen yang muncul terus dalam Paulus, kususnya paradoks ”yang sudah/belum”
1.2. Rumusan Masalah
            1. Bagaimana Eskatologi di dalam Teologi Paulus ?
            2. Bagaimana Aplikasi bagi orang percaya masa kini  ?
1.3. Tujuan Penulisan.
Dengan menulis karya ilmiah yang berjudul “Eskatologi dalam Teologi Paulus” Tujuan dari penulisan ini adalah penulis berharap setiap orang percaya dapat mengerti tentang bagaimana akhir zaman yang di kemukakan oleh rasul Paulus. Dan orang percaya dapat memahami doktrin dari akhir zaman tersebut.



















Bab II
Pembahasan
2.1. Pengertian Eskatologi
Ajaran Alkitab tentang eskatologi (ajaran tentang Akhir Zaman) tidak hanya mempedulikan nasib orang secara perseorangan, tapi juga sejarah manusia. Menurut Alkitab, Allah tidak hanya menyatakan diri-Nya melalui orang-orang yang mendapat ilham, tapi juga dalam dan melalui peristiwa-peristiwa yang membebaskan umat-Nya, dan peristiwa yang terpenting dari semuanya ialah kedatangan Anak-Nya Yesus Kristus. Selanjutnya, isi dari penyataan ini tidak terbatas pada kebenaran-kebenaran mengenai sifat dan tujuan Allah, tapi mencakup juga tindakan-tindakan pelepasan umat-Nya dan firman yang diilhamkan yang menafsirkan makna tindakan-tindakan tersebut. Karena Allah ialah Tuhan atas segala peristiwa sejarah, maka penggenapan dari karya pelepasan oleh Allah mencakup juga pelepasan manusia dari sejarah, artinya, perubahan tata tertib dunia ini menjadi suatu dunia yang baru. Pengertian Eskatologi
Kata Eskatologi berasal dari bahasa Yunani : eskhatos yang berarti akhir zaman, yang hampir sama dengan bahasa Inggris "escalate" (terangkat ) dan digunakan dalam istilah Theologi untuk menunjuk masa"pengangkatan orang kudus" pada akhir jaman. Dalam konteks ini, "eschatos" menunjuk pada saat KedatanganNya Kedua kali ke dunia. "... pada waktu bunyi nafiri yang terakhir ... orang-orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tak dapat binasa dan kita semua akan diubah" (1 Kor 15:52). "Maka Tuhan sendiri akan turun dari Sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit" (1 Tes 4:16). Dalam konteks yang lebih luas, berarti "hari-hari terakhir" dimulai pada saat Pentakosta pada tahun 33 Masehi. Banyak orang yakin bahwa "hari-hari terakhir" akan berakhir saat Yesus datang kembali ke dunia. Jadi Eskatologi adalah ilmu teologi yang berbicara tentang hal-hal yang bertalian dengan akhir zaman.
2.2.Eskatologi dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru
2.2.1. Eskatologi Dalam Perjanjian Lama
            Pada dasarnya Perjanjian Lama tidak sedikit memperbincangkan hubungannya dengan iman yang akan datang. Salah satu aspek Perjanjian Lama yang paling penting adalah pengharapan terhadap masa yang akan datang (eskaton). Eskaton dipahami sebagai hal yang terakhir, sudah terdapat dalam Perjanjian Lama sebelum kitab Perjanjian Baru muncul. Dalam terjemahan Septuaginta  disebut τελος yang berarti akhir, penghabisan, kesudahan, kesimpulan. Dalam bahasa latin Finem, bahasa Inggris Finish[6] dan dalam  bahasa Ibrani בּאחוית היּמים  yang sering diartikan dengan hari Tuhan (Yoom Yahweh) dan Paulus menyebutnya “Hari Kristus”. Istilah ini berkembang dalam pemberitaan Perjanjian Lama yang propetis yaitu dengan pola nubuatan dan pemenuhan [7].
Eskaton dipahami sebagai hari Tuhan yang merupakan otoritas-Nya sepenuhnya. Hari itu dapat dilihat sebagai berkat, hukuman ataupun peringatan, (Mzm73:24,49:16, Ayub 19:25-27, Yes 26:19). Hari Tuhan dengan ungkapan lain pada hari itu mengartikan kepedulian Allah dan lebih, menekankan sifat kejadian itu daripada waktunya dan mengungkapkan kepeduliaan Allah yang sudah terjadi dalam sejarah maupun kepedulian terakhir pada akhir zaman (Yoel 3:14, 18, Zef 3:11,16, Za1 4:9) dan pada hari-hari yang terakhir Allah akan datang mendirikan kerajaan-Nya (Yes 2:2-4; Hos 3:5)[8]. Konsep Eskaton dalam Perjanjian Lama juga dipahami sebagai akhir zaman ( Yes 65:17, 66:23 ) dan adanya suatu langit dan bumi yang baru (Yes 65:17, 66:23). Pada umumnya pengaharapan di Perjanjian Lama merupakan pandangan yang optimis tentang masa depan yang mengharapkan berkat jasmani dan rohani serta  perubahan dalam kehidupan politik, dan adanya harapan  bahwa akan terjadi suatu perubahan yang radikal yang dilakukan oleh Allah kelak yang didasari oleh keyakinan “ bahwa sejarah bergerak dengan tujuan tertentu yang ditentukan oleh Allah dan Allah berkarya dalam sejarah untuk memastikan tujuan tersebut, ide seperti ini sering dipahami sebagai hal Eskatologi[9]. Harapan Eskatologi dalam Perjanjian Lama di dasarkan pada :
Sejak awal zaman para nabi terdapat keyakinan akan ada waktu atau hari ketika Tuhan Allah akan campur tangan dalam sejarah Israel (Ams 5:18-20) keyakinan ini nyata dalam ungkapan Hari Tuhan (Yes 13:6,9, Yeh 13:5, Yoel 1:15,2:1,11,35, Obj 15, Zef 1:7,14, Zak 14:1). Akhirnya konsep umat Israel memandang kedepan, dimana mereka kadang-kadang memusatkan perhatian kepada seorang “ tokoh ” yang akan diutus Allah (Mesias : Masyiakh) tokoh anak manusia (Dan 7) dan gambaran tentang kebangkitan orang mati (Yes 26:19). [10]
2.2.2. Eskatologi dalam Perjanjian Baru
Secara umum daam perjanjian baru Eskaton dipahami sebagai kesudahan akhir zaman yaitu kedatangan Yesus Kristus kedua kali dengan kemuliaaNya (Rom 8:19). Yesus sendiri bersabda akan kedatanganNya yang kedua kali (Mat 16:27, 23:19, 24:27, Yoh 14:3, 14:28). Rasul Paulus juga menyebutnya sebagai kedatangan Yesus yang kedua kali ( 1 Kor 1:17, 15:23, Kol 3:4, 1 Tes 1:10). Dalam Eskaton dipahami bahwa Yesus akan datang untuk menghakimi semua orang yang hidup maupun yang mati. Jaman akan berakhir dan adanya suatu jaman yang baru yang kekal selamanya. Dalam inkarnasi Yesus Kristus Perjanjian Baru melihat sebagian pengharapan Perjanjian Lama telah digenapi, dan dalam kedatanganNya yang kedua kali kelak penggenapanNya seutuhnya pengharapan itu. Hidup, kematian dan kebangkitan Yesus Kristus memulai penggenapan zaman Mesias, walaupun dalam bentuk yang belum pernah diharapkan. Menurut Ibr 1:2 “ Zaman Akhir sudah di sini sekarang, yaitu hari-hari yang akan melihat berdirinya Kerajaan Allah. Tetapi zaman yang akan datang masih tetap dianggap sebagai saat menerima hidup yang kekal. Umat Allah pada zaman ini bersifat umat akhir zaman, yang telah mengalami suatu kuasa yang mengubah dan berdasarkan itu mereka tidak lagi dalam kekuasaan dunia ini (Rom 12:2).

2.3. Eskatologi dalam Teologi Paulus
Dalam pemahamannya tentang Eskatologi, Paulus mendasarkan pemahamannya terhadap kebangkitan Kristus, yang dianggapnya sebagai permulaan zaman akhir dan hal ini merupkan ciri khas iman kristiani.  Kristus telah mati di Golgata dan bangkit pada hari yang ketiga, peristiwa-peristiwa ini dijadikan oleh Paulus sebagai pemberitaan Eskatologinya. Kematian dan kebangkitan Kristus dianggap dan dimaklumi sebagai peristiwa yang paling besar peranannya dalam proses Eskatologi yang menurut Paulus sedang berlangsung (1 Kor 15:3-4).[11]  Kebangkitan Kristus tidak dilihat sebagai suatu peristiwa yang partikular untuk Yesus sendiri, melainkan tindakan penyelamatan Allah yang berarti permulan keselamatan yang defenitif. Hubungan antara kebangkitan Kristus dan keselamatan manusia secara khusus diuraikan oleh Paulus dalam 1Kor15:12-18 “ Kalau tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak dibangkitkan dan andaikata Kristus tidak dibangkitkan maka… sia-sialah kepercayaan kamu”. Dan iman akan kebangkitan Kristus berarti pembebasan dari dosa. Paulus yakin bahwa Kristus akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuhNya yang mulia ( Flp3:21; Lih 1 Kor 15:48-49). Apa yang terjadi dengan Yesus pada hari Jumat Agung dan pada hari Paskah merupakan kejadian pokok yang menyatakan kegiatan Allah pada zaman akhir ini, karena Yesus sudah menyatakan kedatangan Kerajaan Allah melalui pemberitaan dan perbuatanNya. Dan dalam 1 Kor 15:23 Paulus memperlihatkan dengan jelas bahwa kebangkitan Kristus merupakan permulaan dari kebangkitan umum (bdk Rom 4:17) dimana Allah disebut “ Allah yang menghidupkan orang mati” (Lih 2 Kor1:9). Sifat Eskatologi kebangkitan Kristus khususnya berhubungan dengan iman orang kristiani (Rom 3:21,26). Kebangkitan Kristus mempunyai arti keselamatan (Rom4:245), maka dengan tegas paulus dapat mengatakan bahwa kita “ hidup pada waktu dimana zaman terakhir telah tiba (  Kor 10:11), sejarah keselamatan telah mencapai tujuannya dalam Kristus ( Gal 4:4)”.Waktu ini adalah waktu perkenaan; hari ini adalah hari penyelamatan  (2 Kor6:2) rahasia yang sebelum dunia dijadikan, telah disediakan Allah bagi kemuliaan kita” sekarang terlakasana (1Kor2:7, Rom16:26, Kol 1:26).[12]
Paulus sebagai orang Yahudi percaya bahwa sejarah mempunyai satu Tuhan, suatu tujuan dan suatu kesudahan. Inti pengharapan Kristen bagi Paulus adalah untuk diam bersama-sama dengan Kristus  (Flp 1:23) “Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal (1Kor 15:20)”. Apa yang terjadi pada Kristus akan terjadi pada milikNya oleh karena itu demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan (1Tes 4:17)  pengharapan akan “ diam bersama-sama bersama-sama dengan Kristus” tergantung terhadap pengharapan kita yang hidup dalam Kristus tidak dalam daging.
Pemberitaan Eskatologi menurut Paulus haruslah menyifatkan eksistensi orang Kristen yang berada semacam dalam ketegangan. Pada satu pihak keselamatan sudah terwujud, dan pada pihak lain kedudukan orang Kristen yang sebenarnya sebagai anak-anak Allah belum kelihatan dalam dunia. Orang Kristen berada di tengah jalan diantara kedua pola waktu tersebut.[13] Kita hidup dalam Kristus  dan Kristus dalam hidup kita, tetapi Paulus tidak pernah mengungkapkan bahwa kita sudah bangkit bersama dengan Kristus dan juga hidup bersama dengan Tuhan. Kebangkitan manusia tetap menjadi satu pokok pengharapan yang masih dinantikan pada masa depan karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia (1 Tes 4:14 bdk 2 Kor 4:14). Dari satu pihak Paulus berkata bahwa “rahasia yang didiamkan berabad-abad lamanya, sekarang telah dinyatakan dalam Yesus Kristus (Rom 16:26)”, tetapi sama jelas adalah pernyataan bahwa kita mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita, sebab kita diselamatkan dalam pengharapan (Rom 8:23-24). Paulus juga menyatakan bahwa “ Zaman Akhir telah tiba” (1Kor 10:11), namun dari lain pihak dia juga berbicara mengenai dunia yang sekarang ini jahat (Gal 1:4), zaman ini adalah jahat (2 Kor 4:4). Paulus bukanlah seolah-olah telah memperoleh hal ini (kebangkitan) atau telah sempurna, “ melainkan aku mengejarNya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapNya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus ”. 
kendati segala realitas keselamatan, diterima dalam iman, Paulus juga selalu menekankan pengharapan dan dalam suratnya dia mengatakan Allah, Allah Pengharapan (Rom15:13)  dan oleh Roh karena Iman, kita menantikan kebenaran yang kita harapkan (Gal 5:5), kita menantikan pernyataan Tuhan kita Yesus Kristus, pengharapan disediakan di surga ( Kol 1:5) sebab Kristus adalah pengharapan akan kemuliaan ( Kol 1:27) dan itulah yang menjadi kekhasan iman kristiani (1Tes 4:13). Dan kekhasan teologi Paulus adalah bahwa dalam jaman ini “sudah terlaksana zaman yang akan datang” karena kebangkitan Kristus.
 2.3.1. Parousia
Jika kita memperhatikan, Suatu kata yang khas untuk Eskatologi Paulus adalah kata “Parousia; παρουσια”. Dalam Perjanjian Lama kata ini dipahami sebagai Kedatangan Allah dalam sejarah kehidupan manusia dan Kedatangan Allah sebagai Raja Dunia.[14] Kata Parousia sebetulnya berarti  “ Kehadiran/ ketibaan (1 Kor 17:2, 2 Kor 7 :7 ) ”. Kata parousia mendapat arti teologis dari konteks Eskatologi. Dalam istilah Yunani Parousia dipakai untuk kunjungan seorang pejabat tinggi, sedangkan dalam apokaliptik Yahudi dipakai untuk kedatangan Allah atau mesiasNya. Arti ini diambil alih oleh Paulus dan ada pemahaman bahwa Pauluslah yang mengintrodusir kata “Parousia ” untuk kedatangan Kristus sebagai Tuhan yang mulia.[15] Parousia berarti kedatangan Kristus pada akhir zaman. Dalam teologi Paulus realitas parousia juga diungkapkan dengan cara lain “ Pernyataan Tuhan kita Yesus Kristus ”, apabila Kristus menyatakan diri kelak disebut hari Tuhan.
Bagi Paulus, Parousia bukan sesuatu yang semata-mata akan datang pada akhir zaman, melainkan sekarang sudah mulai pengaruhnya sesuai dengan seluruh pandangan Eskatologi Paulus (1 Tes 4:13, 5:23) dan Parousia sangat erat hubungannya dengan kebangkitan Kristus, oleh karena itu Paulus menekankan sifat pengharapan dalam menantikan Parousia. Bagi Paulus seharusnya Akhir Zaman sudah tiba, Kristus telah mati dan bangkit, memulai zaman baru yaitu zaman roh. Masa depan dalam arti riel sudah dikinikan dan orang-orang Kristen sedang menikmati berkat-berkat masa akhir. Karena masa kini mempunyai kualifikasi sebagai masa Eskatologi, maka manusia yang dalam Kristus sudah merupakan ciptaan baru, tidak menentukan, apakah waktu tibanya “ Hari itu” (1 Tes 5:4) sudah dekat. Sungguhpun demkian Paulus dan jemaat mula-mula menantikan kedatanganNya dengan segera “ Hari sudah jauh malam, telah hampir siang (Rom 13:12), Tuhan sudah dekat (Flp 4:5).
Jemaat Paulus di kota Korintus mengucapkan kerinduannya akan kedatangan Tuhan dengan menaikkan Doa “ Maranata ” datanglah ya Tuhan (1Kor 16:22) bahkan Paulus yakin bahwa ia juga masih sempat mengalami Parousia Kristus pada masa hidupnya ( 1 Tes 4:15; 1 Kor 15:51). Dalam hal ini Paulus mulai menyimpulkan peristiwa-peristiwa pada akhir zaman, dimana Paulus mengarahkan perhatian pada pentingnya penyataan yang akan segera disampaikan. Rahasia yang akan disampaikannya adalah bagian dari kebenaran-kebenaran yang telah di rahasiakan Allah dimasa lampau, tetapi kini telah disingkapkannya dengan kedatangan Kristus (Rom 11:2, 16:26, Ef 3:3-5, Kol 1:26,27).[16]  Penggenapan kehendak Allah yang misterius dimasa lampau menunjuk kepada penggenapan dimasa depan, iman masa kini tidak mungkin ada tanpa pengharapan di masa mendatang. Pada tahap ini Paulus masih mengharapkan bahwa dia dan sebagian orang di Korintus tidak akan mati sebelum kedatangan Kristus kembali tetapi di bagian lain suratnya Paulus memperhitungkan kematiannya terhadap kedatangan Parousia Kristus (2 Kor 5:8, Flp 1:23, 3:11). Karena akhir zaman telah dimulai maka Parousia sudah pasti. Dalam surat-suratnya (Tessalonika) mula-mula Paulus mengharapkan hari itu datang segera, tetapi entah segera atau lambat kedatangan itu adalah merupakan kekalahan yang menentukan bagi kejahatan dan kemenangan sepenuhnya rencana Allah di dalam Kristus. Inti pengharapan Krisen bagi Paulus adalah diam bersama-sama Kristus  (Flp 1:23). Dalam surat Tesalonika serta 1 Korintus 15 Paulus mengharapkannya pada hari Kristus, dalam 2 korintus 5:1-10, pemikirannya akan Parousia berubah karena diantara 1 dan 2 Korintus Paulus telah diperhadapkan dengan maut, jadi dalam 2 Korintus dia mengharapkan bila ia mati, juga dalam Filipi 1:23 Paulus berbicara tentang “ Pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus”.
Pegertian dan paparan Paulus tentang Eskatologi tidak dapat diselesaikan begitu saja dikemudian hari. Pengharapan jemaat-jemaat berada dalam satu krisis, sebab semakin hari semakin nyata bahwa Parousia Yesus Kristus belum terjadi. Memang, menurut Paulus, masa kini orang Kristen terisi penuh secara rohani, dan kepercayaan mereka mempunyai dasar yang teguh. Namun demikian, ada hidup pengharapan yang rindu meyambut hari penggenapan yang tidak jauh lagi.
Masa transisi tidak bisa abadi, apa yang dinantikan hendaknya harus sampai juga pada masa yang tidak begitu jauh lagi, tetapi pengalaman jemaat-jemaat adalah bahwa tidak terjadi apa-apa, biar bagaimanapun besarnya semangat pengharapannya masanya ternyata berkepanjangan terus. Jemaat-jemaat mengalami apa yang dalam kupasan Eskatologi Perjanjian Baru lajimnya disebut “Penangguhan/Penundaan Parousia Yesus Kristus dimana semakin lama jemaat menunggu, semakin pasti mendapat kesan bahwa terlambatnya kedatangan Tuhan dan penggenapan pengharapan”.
Kesan tersebut tentulah menyebabkan suatu rasa kecewa yang menghinggapi orang Kristen, karena bayangan dan gambaran-gambaran Eskaton dapat diturun temurunkan kepada generasi yang kemudian, sedangkan pengharapan sendiri yang hidup tidak dapat diwariskan. Pengharapan harus timbul langsung dalam pertemuan dengan pokok-pokok yang patut dinantikan penggenapanya pada masa mendatang yang tidak terlalu lama.
Eskatologi dalam Perjanjian Baru ingin menyifatkan hidup orang Kristen untuk menanamkan benih pengharapan dalam hidup mereka yang relevan untuk eksistensi sekarang ini.
2.3.2. Kebangkitan Daging
Pada kedatangan Tuhan Yesus kelak, akan terjadi kebangkitan mereka yang telah mati di dalam Kristus (1Tes 4:16), dalam Perjanjian Lama kebangkitan ini juga sudah dikenal (Yes 25:8, 26:19, dan 12:2) yang mencerminkan kepercayaan akan kebangkitan. Kepercayaan akan kebangkitan ini berakar pada keyakinan bahwa Allah ialah Allah yang hidup. Dalam Filipi 3:20-21 ditekankan dua hal yakni “ tubuh orang-orang percaya akan diubah pada hari kedatangan Tuhan kelak dan dalam keadaan terakhir mereka masih mempunyai tubuh yang serupa dengan tubuh Yesus yang mulia.[17] Dalam 1 Kor 15 Paulus juga menghubungkan kebangkitan Kristus dengan kebangkitan orang-orang percaya. Dimana bagian pertama pada pasal 15 menetapkan sudah terjadinya kebangkitan Kristus dan menunjukan bahwa jika Kristus tidak dibangkitkan maka sia-sialah kepercayaan orang Kristen (1 Kor 15:17). Dalam Roma 8:11 bdk II Kor 4:4  dikatakan “ Ia yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh rohNya yang diam didalam kamu ” dalam hal ini juga tampak bahwa akan terjadi pengubahan dalam tubuh kita yang sekarang. Sifat tubuh sorgawi atau rohaniah yang akan diberikan kepada mereka yang telah dibangkitkan melampaui pengalaman yang sekarang tetapi benar-benar suatu tubuh yang merupakan lanjutan tubuh duniawi hanya tidaklah terdiri dari daging atau darah (1 Kor 15:50).  Sedangkan orang  percaya yang masih hidup pada saat kedatangan Kristus akan diubah tanpa menjalani maut ( 1Kor 15:51-52, 1 Tes 4:17 ).
Secara umum dapat di katakan bahwa tubuh kebangkitan bukanlah ciptaan yang samasekali baru. Bila itu suatu ciptaan yang sama sekali baru, maka bukanlah tubuh kita yang sekarang, tetapi tubuh yang lain. Akan tetapi, yang di bangkitkn adalah tubuh yang yang di taburkan (1 Korintus 15:43,44,53,54). Sebaliknya, tubuh kebangkitan itu belum tentu terdiri atas unsur-unsur yang persis sama dengan tubuh kita sekrang ini (1 Korintus 15:37,38). Alkitab hanya mengijinkan kita untuk berkata bahwa hubungan antara tubuh kita saat ini dengan tubuh kebangkitan adalah sama seperti benih gandum yang di tanam serta tanaman gandum yang tumbuh dari benih itu. Seorang dewasa memiliki tubuh yang sama  yang dimilikinya ketika ia dilahirkan, sekalipun tubuh itu telah mengalami perubahan terus-menerus dan tidak terdiri dari  sel-sel yang sama dengan ketika ia lahir. Demikian pulakebangkitan adalah tubuh yang sama, sekalipun susunanya akan berubah.[18]
2.3.3. Penghakiman
            Kata yang di gunakan Paulus dalam menjelaskan akhir zaman adalah Penghakiman. Bagi Paulus penghakiman merupakan aspek yang penting dalam pengajarannya tentang Parousia dan penyempurnaan zaman. Bagi Paulus penghakiman merupakan fungsi utama dari Parousia. Ajaran paulus mengenai pembenaran juga menekankan hal ini. Pembenaran adalah berkaitan dengan akhir zaman maksudnya adalah pembebasan dari hukuman dosa melalui keputusan yang menguntungkan dari pihak  hakim pada hari terakhir. Kendati demikian penghakiman tetap merupakan sesuatu yang akan terjadi pada akhir zaman, bahkan atas orang-orang percaya sekalipun. Keadilan dan kebenaran yang kita harapkan (Gal 5:5) adalah pembebasan pada saat penghakiman terakhir. Kita semua harus menghadap tahkta pengadilan Kristus (2 Kor 5:10).  Dari pengadilan itu dapat diketahui apakah kita mendapat upah atau tidak (Rom 14:10, 1Kor 3:12, 15:2) dengan demikian orang percaya mulai sadar bahwa suatu hari nanti mereka akan tampil dihadapan Allah untuk menerima murka (orge) dengan geram (thumos) dari Ilahi yang kekal (Rom 2:5, 2:1-11)[19] mengapa perlu bagi Allah untuk melaksanakan penghakiman? Tujuan penghakiman akhir bukanlah untuk mamastikan, melainkan untuk menyatakan watak serta penetapan berbagai keadaan lahiriah yang sesuai dengan watak tersebut. Allah sudah mengetahui keadaan semua makluk moral, sehingga akhir zaman hanya akan menyatakan betapa adilnya penghakiman yang dilaksanakan oleh Allah. Ingatan, hati nurani, dan watak kita merupakan persiapan dan bukti untuk penyingkapan yang terakhir itu.[20]

2.3.4. Aplikasi Bagi orang Percaya
Di atas penulis telah memberikan beberapa kata yang sering di gunakan Paulus dalam menjelaskan tentang Eskatologi. Ia percaya bahwa melalui Kristus, kematian telah kehilangan sengatnya, yang Paulus samakan dengan dosa (1Kor 15:55-56). Pandangan ini di dasari atas pandangan bahwa maut masuk dalam dunia karena dosa (Rm 5:12), dan Kristus secara efektif telah memecahkan soal dosa itu. Paulus tidak memandang lagi  kematian sebagai musuh yang perlu di takuti. Tetapi malah sebagai titik transisi menuju semacam kehidupan yang lebih penuh. Pengalamanya sendiri memperlihatkan keyakinanya. Paulus sering di ancam maut (1 Kor 15:31 ; 2 Kor 1:8; 11:23). Ia dapat berdebat dengan kepala dingin tentang apakah hidup atau mati dalam Kristus yang lebih baik.
Jadi sebagai orang Percaya hendaknya bersiap sedia dalam menghadapi akhir zaman. Akhir zaman pastilah ada dan akan datang, jadi hendaknya janganlah membuat akhir zaman sebagai hal yang di takuti tetapi orang percaya harus bersiap sedia.dan dalam akhir zaman tentunya sebagai orang percaya pastinya kita akan di bangkitkan dan menghadapi sebuah penghakiman. Karena kita telah percaya pada Tuhan maka kita sudah dibenarkan oleh Tuhan Yesus.















BAB V
Simpulan

            Setelah mempelajari tulisan-tulisan Paulus mengenai Eskatologis, maka dapat di ambil sebuah Simpulan, Eskatologi Paulus bukan suatu ramalan apokaliptis, melainkan suatu pemahaman Injil. Maka pengharapan Paulus, kendati segala kepastian iman, tetap merupakan pengharapan. Eskatologi tidak hanya merupakan pandangan terhadap sejarah keselamatan, melainkan menentukan seluruh hidup orang Kristen. Keselamatan adalah real sejauh kita berada dalam Kristus, sejauh kita masih dalam keturunan Adam, keselamatan tetap diharapkan. Dan sejauh kita mengharapkan Parousia Yesus Kristus maka yang terutama adalah bagaimana sikap kita terhadap Parousia bukan berapa lama tetapi setiap orang harus menantikan Parousia.





[1] Welly Pandesolang.2004.Eskatologi Biblika (Yogykarta. andi) hlm.1
[2] C. Marvin Pate.2004.Teologi Paulus. (Malang. Penerbit Gandum Mas) hal246
[3] Donald Gutrie, Teologi Perjanjian Baru 3, 1996 (Jakarta; BPK. Gunung Mulia),  hlm. 145
[4] T. Jacob, Paulus Hidup, 1983. karya dan Teologinya, (Jogyakarta; Kanisius & Jakarta; BPK. Gunung Mulia,),  248
[5] Donald Gutrie, Teologi Perjanjian Baru 1, (Jakarta; BPK. Gunung Mulia, 2001),  148

[6] Alexander Sonter, 1996. A Pocket Lexicon To The Greek New Testament : ( London Oxford University Press, 1996 ) hlm 98
[7] Gerhard, Kittel ,1976.“Theological Dictionary of the New Testament” Vol VI  (Michigan:   Grand Rapids 1976) hlm 697-698
[8] Douglas, J (edt) 2003“ Ensiklopedia Alkitab Masa Kini” Jilid I  (Jakarta YKBK/OMF ) hlm 286
[9] Lasor, William Sanford “ Old Testament Survey,  ( Michigan Erdmans Publishing Company )
[10] Dr. David L. Baker.2001“ Satu Alkitab Dua Perjanjian ”  ( Jakarta : BPK—GM ) hlm 15-17

[11] R Bultmann,1957 . History and Eschatology, (Bloomsbury Street London )hlm.113
[12] Tom  Jacobs, , Sy. Paulus .1983. Hidup, Karya dan Teologinya ( Kanisius : BPK, Yogyakarta )hlm245
[13] Ulrich, Beyer, “ Garis-garis Besar Eskatologi dalam Perjanjian Baru ” hlm 24 ( Jakarta BPK 1985)
[14] Ibid. hlm. 24
[15] Tom  Jacobs, , Sy. Paulus. 1983 Hidup, Karya dan Teologinya ( Kanisius : BPK, Yogyakarta )hlm.245
[16] V.C.  Pfitzner,  2004.Kesatuan Dalam Kepelbagaian, Tafsiran atas Surat 1 Korintus,  ( Jakarta, BPK-GM,)hlm.325


[17], Donald Guthrie 1996. Teologia Perjanjian Baru III, Jakarta BPK-GM, 1996.
[18] Henry Clarence Thiessen.1992. Teologi Sistematika (Gandum Mas.Malang), hlm. 595
[19] Guthrie, Donald 1996. Teologia Perjanjian Baru III, Jakarta BPK-GM,
[20] Henry Clarence Thiessen.1992. Teologi Sistematika (Gandum Mas.Malang), hlm. 601